G20 di Bali
Joe Biden dan Xi Jinping Akan Bertemu di Bali Hari Ini, Bahas Taiwan hingga Menstabilkan Hubungan
Pertemuan ini akan membahas banyak hal antara lain kekhawatiran AS atas Taiwan, perang Rusia di Ukraina dan ambisi nuklir Korea Utara.
Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan pertemuan itu dapat berlangsung selama dua jam atau lebih, dan Biden akan sangat lugas dalam pembicaraan tersebut.
"Presiden melihat Amerika Serikat dan China terlibat dalam persaingan yang ketat, tetapi persaingan itu tidak boleh berujung pada konflik atau konfrontasi," kata Sullivan kepada wartawan, menjanjikan komentar Biden sesudahnya.
Dia mengatakan Biden juga akan mencari area di mana Amerika Serikat dan China dapat bekerja sama, termasuk perubahan iklim atau kesehatan masyarakat.
Menurut perhitungan Biden, kedua pemimpin saling mengenal dengan baik, telah melakukan perjalanan lebih dari 17.000 mil bersama dan menghabiskan 78 jam dalam pertemuan.
Mereka menghabiskan waktu bersama di Amerika Serikat dan China pada 2011 dan 2012 ketika keduanya menjabat sebagai wakil presiden negara masing-masing.
Beijing, yang frustrasi dengan apa yang dilihatnya sebagai senjata kebijakan ekonomi pemerintahan Biden, telah berusaha memperluas hubungan dengan Eropa dan Afrika.
Pemerintah Xi juga mengkritik sikap pemerintahan Biden terhadap Taiwan yang merusak kedaulatan dan integritas teritorial China.
Presiden China juga menyarankan bahwa Washington ingin menahan pengaruh Beijing yang semakin besar karena mencoba untuk mengambil alih Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia.
Pertemuan hari Senin di sela-sela pertemuan para pemimpin Kelompok 20 di Bali, Indonesia, terjadi beberapa minggu setelah pemerintahan Biden meluncurkan strategi keamanan nasional baru yang melihat China yang semakin otoriter sebagai tantangan paling penting bagi tatanan global.
"Pemerintahan Biden akan mencoba membunuh dua burung dengan satu batu - meminta dukungan China pada isu-isu seperti mengekang Korea Utara dan perubahan iklim - untuk menciptakan beberapa dasar kerja sama antara China dan AS," kata Oriana Skylar Mastro, pakar China di Universitas Stanford.
(*)
Sumber Tribunnews