Berita Jembrana
BPBD Jembrana Verifikasi Tingkat Kerusakan Rumah Terdampak Bencana, Segera Usulkan ke Pemprov Bali
Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana bersama aparat desa/kelurahan tengah melakukan verifikasi tingkat kerusakan akibat
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra mengakui, untuk lahan relokasi memang telah diwacanakan oleh Pemprov Bali. Namun, pihaknya masih kembali memastikan ke Pemprov terkait lahan pasti. Setelah pasti, warga yang setuju relokasi akan diajak untuk meninjau lokasinya langsung.
"Nah kita akan pastikan lagi lahan yang mana akan diberikan. Karena kemarin kan ada beberapa lokasi yang disebutkan. Satu contohnya lahan kantor perkebunan di Bilukpoh Kangin," jelas Agus Artana.
Lalu bagaimana mekanismenya nanti setelah warga mendapat relokasi, Agus Artana menjelaskan, ketika warga setuju relokasi ia akan pindah tempat tinggal. Sedangkan, untuk lahan milik warga sebelumnya tetap menjadi hal yang bersangkan namun kemungkinan tidak boleh dibangun menjadi rumah atau dialihkan menjadi lahan pertanian.
"Sehingga kami harapkan sekarang sudah clear. Sekarang ini kesempatan bagi mereka, kalau belakangan ingin relokasi akan kesulitan di administrasi," tandasnya.
Sebelumnya, warga terdampak banjir bandang di Lingkungan Bilukpoh Kangin, Desa Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo masih tampak sibuk membersihkan rumahnya, Senin 14 November 2022. Meskipun tanah serta kayu masih memenuhi halaman rumahnya, warga tampak semangt untuk mencari barang berharganya. Bahkan, sebulan bencana berlalu, seorang warga mengaku berhasil menemukan surat berharga yakni Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) motor. Disisi lain, warga juga menunggu informasi kepastian rencana relokasi rumahnya.
Seorang warga, Gusti Komang Putra menuturkan, pasca peristiwa air bah yang menerjang, ia berusaha untuk membersihkan rumahnya bersama kerabat. Sebab, ia tinggal bersama 3 KK lainnya di satu halaman itu. Hari demi hari, ia lakukan pembersihan untuk menemukan sejumlah barang berharga.
"Kemarin, kita berhasil menemukan BPKB. Astungkara, tapi rumah saya masih penuh lumpur dan dapur saya hanyut," kata Gusti Komang Putra saat dijumpai di rumahnya.
Disinggung mengenai relokasi rumah warga terdampak bencana, Gusti Putra mengaku sangat ingin direlokasi dengan catatan lokasinya tak jauh. Sebab, jika jauh warga harus pindah tempat dan pindah status banjar adat.
"Kalau dekat kami setuju tentunya. Itupun kalau kami direlokasi," tegasnya.
Dan jika seandainya pemerintah tidak mau merelokasi, kami harap bisa menyediakan lahan dan rumah. Setelah itu, warga mengaku akan siap untuk melakukan kredit atau membayar dengan mencicil.
"Beberapa orang warga juga sama prinsipnya dengan saya. Kami siap mencicil dengan jangka waktu yang panjang agar lebih murah. Agar kami tetap bisa hidup," tegasnya.
Terpisah, I Kadek Budra (50) tampak sibuk membersihkan timbulan tanah akibat banjir bandang sebulan lalu. Meskipun belum kembali ke rumah lama, ia masih berniat untuk membersihkan areal rumahnya sebagai antisipasi jika tempat atau lahan relokasi terlalu jauh.
"Kalo dekat (lahan relokasi) saya setuju, kalau jauh menolak kami," tegas Budra saat dijumpai.
Warga yang sudah tinggal turun temurun sejak 1963 silam ini mengaku akan tetap tinggal di rumah lama. Meskipun jaraknya cukup dekat dengan sungai, ia memilih tinggal di rumah lama karena lebih nyaman.