G20 di Bali
Pemprov Bali Keluarkan Rp 3,4 Miliar Untuk KTT G20, Koster Singgung Demo Mahasiswa Papua
Untuk mendukung suksesnya perhelatan KTT G20, Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan anggaran Rp 3,4 miliar.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Setelah mendapat informasi bahwa diperkirakan akan hujan, panitia merencanakan untuk melakukan rekayasa cuaca.
“Kita menggunakan BMKG dan kita menyiapkan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca),” ujar Presiden Jokowi.
Beberapa pemimpin redaksi menduga panitia G20 menggunakan jasa pawang hujan. “Enggak, kita ini ilmiah sekali.
Setiap ada gumpalan awan yang menimbulkan potensi hujan langsung disergap tim TMC,” tutur Presiden Jokowi menceritakan proses rekayasa cuaca.

Dihubungi terpisah, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa TMC merupakan kolaborasi BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan TNI AU, dengan didukung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
“Biasanya garamnya 1,6 ton yang ditabur dengan 2 kali sorti [penerbangan], kemarin 15 November 2022, kita menggunakan garamnya 11,2 ton dengan 11 kali sorti [penerbangan],” kata Dwikorita.
Selain itu, Dwikorita juga menyampaikan bahwa tim TMC mulai bekerja sejak tanggal 10 November 2022 pagi hingga 16 November 2022 pukul 16.00 WITA. Dengan menggunakan total 29 ton garam yang ditabur melalui 28 sorti penerbangan.
Sementara itu, Gubernur Koster buka suara terkait aksi demo mahasiswa Papua di Renon beberapa waktu lalu yang bertepatan dengan kegiatan KTT G20. Menurutnya masyarakat Bali kini telah solid untuk mengamankan acara KTT G20.
“Ketika ada demo dari sekelompok kecil orang itu masyarakatnya langsung melarang dan menghadang agar tidak ada demo. Masyarakat Bali sepenuhnya sangat solid untuk mendukung G20, tapi ada sekelompok kecil masyarakat dari luar Bali yang ingin melakukan demo dan saya akan mengumpulkan itu,” ucap Koster, Jumat.
Wayan Koster menegaskan, jika mahasiswa Papua tersebut ingin demo, namun tidak ada urusannya dengan Bali, agar melakukan demo di wilayahnya saja. Ia menekankan kepada mahasiswa Papua tersebut agar jangan ribut di Bali.
“Kalau mau demo berkaitan dengan wilayahnya, silakan dilakukan di wilayahnya jangan dilakukan di Bali. Jangan cederai citra masyarakat Bali yang begitu royal mendukung event-event internasional di Bali, tapi kita dinodai dengan sekelompok masyarakat kecil dari luar Bali.
Saya kira itu bukan tindakan yang bijak,” imbuhnya.
Sebelumnya, mahasiswa Papua di Denpasar melakukan aksi demo di Asrama Putra (ASPURA) Jalan Tukad Yeh Aya No 52 Banjar Tengah, Denpasar Selatan, Rabu (16/11) pukul 10.45 Wita. Aksi demo tersebut berujung memanas, antara mahasiswa Papua dan masyarakat pihak Desa Adat Renon.
Jero Bendesa Adat Renon I Wayan Suarta, menanggapi terkait adanya gesekan antara mahasiswa asal Papua dengan kelompok masyarakat tersebut. Ia memastikan sampai saat ini situasi di wilayahnya aman dan kondusif.

200 Polisi Ditarik dari Gilimanuk