Pariwisata Bali

Dari 238 Total Desa Wisata di Bali yang Masih Eksis, Hanya 40 Persen Aktif Pemasaran

Beberapa upaya dilakukan Pemerintah Provinsi Bali untuk tetap memasarkan desa-desa wisata yang ada di Bali.

(Putu Yunia Andriyani)
Tjok. Bagus Pemayun, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali yang ditemui pada Senin, 9 Mei 2022 - Dari 238 Total Desa Wisata di Bali yang Masih Eksis, Hanya 40 Persen Aktif Pemasaran 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dari 238 desa wisata yang ada di Bali, hanya 40 persen yang masih eksis untuk memasarkan kegiatan pariwisatanya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun, Kamis 1 Desember 2022.

“Sekarang ada 238 total semua ( Desa Wisata di Bali) yang saya lihat eksisnya belum semua saya lihat, namun saya prediksi 40 persen dari jumlah dan baru mulai bagus. Lalu 20 persennya mungkin sangat bagus sekali,” jelasnya.

Beberapa upaya dilakukan Pemerintah Provinsi Bali untuk tetap memasarkan desa-desa wisata yang ada di Bali.

Baca juga: Sempat Jatuh Saat Pandemi, Ini Empat Pilar Bangun Pariwisata Berkelanjutan di Bali dalam New Normal

Cok Bagus mengatakan, tren wisatawan kedepannya adalah terkait alam.

Sehingga pihaknya telah melakukan strategi pembinaan terkait bagaimana dan apa yang dilakukan terbaik dari sisi tata kelola maupun SDM di desa wisata.

“Kita juga sudah bentuk Forkomdewi ( Forum Komunikasi Desa Wisata). Kita selalu komunikasikan dan ada jejaring desa wisata Pokdarwis yang mengelola. Seperti itu yang kita lakukan, termasuk bagaimana mendorong memfasilitasi kalau memang untuk dipromosikan di media-media yang kita miliki, kita bantu,” katanya.

Kemudian ia juga meminta agar dari Kemenparekraf atau dari Kementerian lain untuk memfasilitasi bantuan-bantuan ke desa wisata, baik fisik atau pembinaan lainnya karena memang sekarang rata-rata Kementerian arahnya ke desa dalam kaitannya wisata.

“Karena desa dapat memberikan efek yang besar terhadap perkembangan pertumbuhan ekonomi di wilayah atau desa tersebut,” katanya.

Jumlah desa wisata meningkat sejak pandemi Covid-19.

Tjok Pemayun mengatakan, tidak semua Desa di Bali dapat dikembangkan menjadi Desa Wisata.

“Biar tidak salah konsepnya, dan tidak semua desa wisata harus ada homestay-nya. Yang sudah ada akan kita gali. Sebagian kamar yang ada kita manfaatkan untuk homestay. Untuk proses pembuatan desa wisata itu memang pertama dasarnya ada SK Bupati, wajib itu,” katanya.

Sementara untuk mengembangkan desa wisata pertama, Cok menjelaskan, desa harus membuat semacam kajian kecil-kecilan atau jika memungkinkan membuat kajian kerjasama dengan kampus atau tokoh-tokoh masyarakat di sekitar desa.

Terlebih di suatu desa wisata pasti ada masyarakatnya yang sarjana agar dimanfaatkan untuk membuat analisa atau kajian semacam SWOT untuk memastikan kekuatan dan kelemahan desa wisata.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved