Berita Buleleng

Meski Gratis, Museum Soenda Ketjil Minim Pengunjung

Sejak didirikan pada 2018 lalu, Museum Soenda Ketjil yang ada di kawasan eks Pelabuhan Buleleng masih minim pengunjung.

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Suasana Museum Soenda Ketjil di kawasan Eks Pelabuhan Buleleng 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Sejak didirikan pada 2018 lalu, Museum Soenda Ketjil yang ada di kawasan eks Pelabuhan Buleleng masih minim pengunjung.

Dinas Kebudayaan Buleleng selaku pengelola akan mencoba menambah koleksi, serta mengajak sejumlah kelompok anak muda untuk mengisi kegiatan positif di museum tersebut.

Ini dilakukan agar museum lebih dikenali oleh masyarakat. 


Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, I Nyoman Wisandika ditemui Rabu (14/12) mengatakan, berbagai kegiatan sejatinya gencar dilakukan oleh pihaknya, salah satunya pameran pertanian di Museum Soenda Ketjil.

Baca juga: Penemuan Mayat di Buleleng, Ardika Terperangah Lihat Kaki di Gorong-gorong, Nyangkut di Selokan

Namun jumlah kunjungan diakui Wisandika hingga saat ini belum maksimal.

Sehingga saat ini pengunjung yang masuk ke museum tersebut masih digratiskan. 


Museum tersebut kata Wisandika dibangun oleh Pemkab Buleleng untuk mengedukasi masyarakat, bahwa pada zaman dahulu Buleleng merupakan pusat ibukota Bali, NTT dan NTB atau yang disebut dengan Provinsi Sunda Kecil.

Gubernurnya kala itu Mr I Gusti Ketut Pudja. Di museum tersebut terdapat beberapa barang peninggalan milik Mr Pudja, buku, foto dan beberapa cerita sejarah. 

Baca juga: Mayat Mr. X Ditemukan Membusuk di Gorong-Gorong di Jalan Rajawali, Seririt, Buleleng, Bali


Untuk meningkatkan jumlah pengunjung, Wisandika pun menyebut pihaknya akan mencoba mengkaji kembali jam buka dan tutupnya museum tersebut.

"Tutupnya sore, sesuai jam kerja. Kami akan kaji lagi jam operasionalnya karena Eks Pelabuhan Buleleng itu kan ramai sore dan malam hari."

"Penjaganya bisa saja nanti dibagi dalam dua shift, sehingga saat malam hari masyarakat bisa berkunjung. Hari sabtu juga biar tetap buka," terangnya. 


Selain itu, Wisandika menyebut pihaknya akan mencoba menambah beberapa koleksi yang ada di museum tersebut, dengan melakukan penjajagan dengan ahli waris atau keluarga Mr Pudja serta pemerintah pusat.

Selain itu, pihaknya juga akan mengajak kelompok anak muda untuk berkegiatan di museum yang dibangun dengan anggaran Rp1 Miliar dari Kemendikbud RI tersebut. 

Baca juga: Nelayan Sinar Bahari di Buleleng Bali Curhat Susah Dapat BBM Pertalite!


"Sebenarnya museum ini didesain tidak membutuhkan banyak koleksi benda-benda bersejarah. Museum ini dibangun sebagai wadah untuk anak mudah beraktivitas, berkreasi dan belajar sejarah tentang Buleleng."

"Makanya ada ruang kosong yang disediakan di museum itu. Kami siap men-support apabila museum itu digunakan oleh anak muda untuk berkreasi," tandasnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Berita Buleleng

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved