Upaya Konservatif IOH Kendalikan Perubahan Iklim, Dari Laut Jembrana Untuk Dunia
Upaya Konservatif Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) kendalikan perubahan iklim, dari laut Jembrana untuk dunia.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Kartika Viktriani
Berkolaborasi dengan Balai Pengelolaan Informasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (BPISDKP) KKP, Yayasan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, dan Yayasan Bakau Manfaat Universal (BakauMU), IOH menggelar pelatihan menyentuh langsung masyarakat.
Pelatihan tersebut diisi dengan materi-materi mulai dari manfaat menjaga ekosistem mangrove, pengembangan potensi wisata mangrove, hingga praktik penyulaman mangrove yang diberikan untuk Kelompok Ekowisata Desa Perancak.
Menurut SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Steve Saerang, bahwa Kabupaten Jembrana memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata baru di Bali dengan keanekaragaman berupa hutan mangrove.
Pelatihan yang diberikan kepada komunitas masyarakat Perancak dimaksudkan agar dapat dimanfaatkan dan diterapkan semaksimal mungkin dengan proyeksi jika wisata bergerak maka otomatis roda perekonomian pun berjalan bagi masyarakat setempat.
“Potensi ini harus dikelola dengan baik agar mampu menjadi daya tarik wisatawan dan menjadi kebanggaan IOH pada khususnya, serta masyarakat Jembrana pada umumnya,” ucap Steve
Selain menggelar kegiatan pelatihan pengelolaan mangrove, bagian konservatif lainnya, IOH melaksanakan aksi nyata dengan kegiatan bersih-bersih sampah plastik di kawasan Pantai Pura Segara Perancak.
Bersih-bersih sampah plastik kembali melibatkan stakeholder, kali ini dari Dinas Perhubungan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jembrana, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Jembrana serta Kelompok Bina Keluarga Desa Perancak.
IOH berkomiten menjadikan agenda konservasi lautan ini secara berkelanjutan agar semakin banyak pihak yang terlibat dan menyadari dampak bahaya sampah plastik terhadap kelestarian biota laut serta ekosistem pendukungnya.
“Kami ingin mendukung target pemerintah mengurangi sampah laut sampai 70 persen pada 2025 dapat tercapai,” tuturnya.
IOH juga berperan menggelorakan semangat komunitas masyarakat lokal agar dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik serta mengoptimalkan manfaat kehadiran IOH dari segi sosio-ekonomi.
“Sampah yang berhasil dikumpulkan dan ditimbang seberat 246 kilogram yang kemudian diserahkan ke tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) untuk dibersihkan dan dipilah kembali,” kata dia.
Berkaitan dengan langkah konservasi, Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan, pengelolaan kawasan konservasi dan pengelolaan sampah merupakan kegiatan sinergis dalam mendukung Pemerintah Indonesia sebagai anggota G20 yang berkomitmen untuk terus meningkatkan upaya-upaya untuk pengendalian perubahan iklim.
Program konservasi laut IOH juga mendukung pemerintah dalam implementasi tiga agenda EDM CSWG (Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group).
“Dengan peresmian Program CSR Indosat Ooredoo Hutchison untuk Konservasi Laut di Bali, maka semakin menguatkan kegiatan perlindungan dan pelestarian ekosistem pesisir dan keanekaragaman jenis flora dan fauna di perairan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Bali,” kata Koster.
Sementara itu, Kepala Bidang Kelautan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Ketut Astari menekankan, bahwa untuk menjaga ekosistem laut secara konservatif perlu peran seluruh pihak, baik pemerintah, Yayasan atau Lembaga, perusahaan swasta seperti IOH hingga kelompok warga sekitar.