Berita Klungkung
Menjamurnya Arak Gula Pasir Meresahkan, Penjualan Arak di Klungkung Kini Macet
Pemerintah Provinsi Bali memberikan perhatian, terhadap keberadaan minuman beralkohol jenis arak namun pejualan arak di Klungkung justru macet.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Pemerintah Provinsi Bali memberikan perhatian, terhadap keberadaan minuman beralkohol jenis arak.
Namun beberapa perajin arak di Klungkung, justru mengaku penjualannya macet.
Sehingga beberapa perajin arak, justru beralih membuat gula merah.
Baca juga: Tiga Karyawan Bumdes Kampung Toyapakeh Klungkung Jadi Tersangka, Tilep Uang Capai Rp1,5 Miliar
Hal inilah yang dialami oleh Komang Ayu Sugianti (37), seorang perajin arak di lingkungan Bukit Abah, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali.
Di dapurnya yang sederhana, ia masih bertahan untuk memproduksi arak dengan cara tradisional, yakni dari hasil distilasi nira kelapa.
Ayu Sugianti mengeluh, karena semenjak pemerintah melegalkan Arak Bali, justru semakin menjamur arak fermentasi gula pasir di pasaran.
Baca juga: Kabupaten Klungkung Tahun 2023 Terima Dana Desa 46 Miliar, Desa Klumpu Terima Dana Paling Tinggi
"Itu sekarang semenjak arak dilindungi pemerintah, malah disalahgunakan. Banyak bikin arak gula (fermentasi), tapi dilabeli arak tradisional Bali. Kami yang perajin arak tradisional yang dirugikan," keluh Komang Ayu Sugianti, ketika ditemui di kediamannya, Kamis (26/1/2023).
Ia mengatakan, sebelum maraknya arak gula pasir di pasaran, hampir setiap hari arak yang diproduksi Ayu Sugianti laku.
Pengepul selalu datang setiap hari untuk mengambil arak yang diproduksi Sugianti.
Baca juga: Kabupaten Klungkung Tahun 2023 Terima Dana Desa 46 Miliar, Desa Klumpu Terima Dana Paling Tinggi
"Saya kan buat arak 2 kali sehari. Kalau dulu, arak belum jadi sudah ada yang pesan," jelasnya.
Berbeda dengan saat ini, arak yang diproduksi Ayu Sugianti justru baru diambil pengepul 10 hari sekali. Itupun jumlahnya tidak banyak.
"Arak tradisional Bali kalah bersaing dengan arak gula pasir. Kata pengepul arak gula pasir lebih laku, karena harganya yang murah. Tapi kan arak gula pasir itu pakai nama Arak Bali. Imbasnya yang rugi kami, perajin arak yang asli dari sulingan nira kelapa," keluhnya.
Baca juga: Tiga Karyawan Bumdes Kampung Toyapakeh Klungkung Jadi Tersangka, Tilep Uang Capai Rp1,5 Miliar
Karena macetnya penjualan, kini ada beberapa perajin arak Bali yang justru beralih membuat gula merah. Sugianti bahkan tertarik ikut beralih buat gula merah, namun terhalang modal.
"Kalau buat gula merah kan butuh modal juga, bikin jalikan (tungku) baru, penggorengan juga," ungkapnya.
Baca juga: Belum Dimanfaatkan, 2 Gedung Senilai Miliaran Rupiah di Klungkung Sudah Bocor
Di saat pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan berbagai kebijakan untuk melestarikan produksi arak Bali, jusru beberapa perajin sampai meninggalkan pembuatan arak tradisional karena kalah bersaing dengan arak gula pasir.
Bahkan belum semua perajin arak juga mengetahui, jika tanggal 29 Januari ditetapkan sebagai Hari Arak oleh Pemprov Bali.
"Saya berharap pemerintah lebih memperhatikan lagi perajin arak tradisional seperti kami. Kalau terkait itu (Hari Arak) saya baru tau, sebelumnya tidak ada seperti itu," jelasnya. (*)
Berita lainnya di Berita Klungkung
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.