Berita Jembrana

Seorang ASN di Jembrana Meninggal Dunia, Sebelum Meninggal Sempat Tunjukan Ciri Mengarah ke Rabies

Seorang warga Banjar Anyar Tengah, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, baLI, meninggal dunia, Senin 13 Februari 2023 pagi.

Istimewa
Petugas dari Keswan-Kesmavet didampingi petugas Puskesmas Mendoyo saat meminta informasi terkait kasus tersebut di rumah korban di Banjar Anyar Tengah, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Senin 13 Februari 2023. 


Kepala Dinas Pertanian Jembrana, I Wayan Sutama mengatakan, pasca menerima informasi tersebut pihaknya telah menerjunkan tim Keswan-Kesmavet untuk melakukan investigasi.

Dari kegiatan tersebut, memang ada informasi bahwa warga yang merupakan ASN tersebut sempat digigit anjing pada pelipis dekat matanya.


"Dari pengecekan tim di lapangan, korban ini memang sempat menerima gigitan pada areal wajah, yakni pelipisnya," ungkap Sutama saat dikonfirmasi, Senin 13 Februari 2023. 

Baca juga: 7 Orang Meninggal Suspek Rabies Sejak 2010 di Jembrana, Dinkes Tegaskan Jangan Abaikan Gigitan HPR


Dia melanjutkan, mengingat peristiwa tersebut sudah terjadi pada bulan Januari lalu, HPR atau anjing yang menggigit tak bisa dilakukan identitikasi.


"Tidak diketahui hasilnya apakah positif atau tidak. Karena tidak ada pemeriksaan, kejadiannya sudah sebulan yang lalu," jelasnya. 


Dengan kejadian ini, kata dia, pihaknya akan memfokuskan pelaksanaan vaksinasi rabies massal di wilayah Desa Penyaringan.

Apalagi desa Penyaringan ini merupakan salah satu zona merah rabies pada tahun lalu.

Pelaksanaan vaksinasi akan tetap berkoordinasi dengan pihak desa, babinsa hingga bhabinkamtibmas setempat. 


"Total capaian vaksinasi rabies kita saat ini sudah di 11 persen dari target 80 persen. Kami harap itu bisa segera terwujud," tandasnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jembrana, dr Made Dwipayana mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan rumah sakit swasta yang sempat merawat korban.

Hasilnya, korban didiagnosa menderita enchepalitis atau radang otak. Sejatinya, sejak awal korban ini tidak ada gejala yang mengarah ke rabies, tapi hari ketiga muncul gejala radang otak.


"Setelah meninggal, tim dari Puskesmas menelusuri apakah ada riwayat gigitan. Dan ternyata ada bulan Januari. Tapi, pasien tidak pernah ke faskes setelah digigit di areal wajah karena berisiko tinggi," ungkapnya. 


Menurutnya, korban tidak melapor kemungkinan karena merasa tidak akan terjadi apa-apa. Apalagi, korban disebutkan sempat menggendong anjing milik keponakannya tersebut. 


"Kami harap masyarakat tetap waspada. Ketika menderita gigitan HPR agar dilakukan penanganan yang tepat," tandasnya. 


Terpisah, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jembrana, I Gede Ambara Putra mengungkapkan, pihaknya juga telah melakukan investigasi terkait kasus tersebut. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved