Berita Bali
Mengenal Desa Belimbing "Hidden Gem" di Bagian Tengah Pulau Bali
Terasering di Desa Belimbing memanjakan mata sejauh mata memandang, panorama alam yang disuguhkan pun tak kalah dengan Ubud atau Tegallalang.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Kartika Viktriani
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Potensi sumber daya alam (SDA) Bali seolah tak ada habis-habisnya digali.
Jika meniliki peta di tengah-tengah Pulau Dewata terdapat sebuah desa yang jika ditelusuri bak “hidden gem” bernama Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali.
Jaraknya tidak begitu jauh dari Pantai Soka, Desa yang terletak 500-600 meter di atas permukaan laut ini memiliki kekayaan sumber daya pertanian dan perkebunan serta udaranya sejuk dianugerahi kelimpahan tanah yang subur.
Hasil bumi yang paling unggulan dari Desa Belimbing adalah varian buah Durian lokal yang disebut Durian Kunyit, Manggis yang sudah menjadi komoditi ekspor, Kweni, Gula Aren serta tanaman Kopi yang mana kopi tersebut dikelola dan diolah melalui Kelompok Teduh Mekori.
Memasuki Kawasan Desa Belimbing, terasering memanjakan mata sejauh mata memandang, panorama alam yang disuguhkan pun tak kalah dengan Ubud atau Tegallalang.
Deretan resto dan Villa dengan nusansa – nuansa alam pun hadir berderet di desa yang mengusung slogan “Belimbing Harmony” ini. Beberapa resto yang menjadi rekomendasi seperti Warung Ibu Made, Warung Purnama, dan Warung Tepi Sawah.
Desa Belimbing memiliki wilayah yang terbilang besar dengan luasan 36 kilometer persegi, di dalamnya terdapat 8 banjar dan 3 desa adat dihuni sebanyak 4.626 jiwa dari 1.302 KK (Kartu Keluarga) di mana mata pencaharian mayoritas bertani dan berkebun.
Sebagaimana dituturkan Kepala Desa Belimbing, I Nyoman Surianto (49) saat dijumpai Tribun Bali di kantor desa setempat dalam kegiatan penyerahan dan penanaman bibit Pohon Durian Musang King menandai 10 tahun perjalanan Tour Story, pada Rabu 1 Maret 2023.
“Di sini yang menjadi daya tarik wisatawan adalah sawah terasering, ada 3 air terjun, ada Hutan Mekori seluas 18 hektar, terdapat populasi kera ekor panjang, monyet-monyet seperti di Monkey Forest, ada jalur untuk trekking juga, desa ini juga telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak tahun 2016. Desa Belimbing juga desa penghasil dan pengolah kopi, menjadi kopi bubuk, kopi di sini dominan robusta yang dikembangkan di sini sistem sambung,” kata Nyoman.
Baca juga: Cafe Kebun, Hidden Gem di Hutan Bambu Penglipuran, Tempat Nongkrong Unik dan Nyaman di Bangli
Nyoman berharap Desa Belimbing menjadi rekomendasi wisata baru bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Meski sudah ada yang mengenal Desa Belimbing namun kunjungan wisatawan masih perlu ditingkatkan sehingga perlahan dikenal dan diperhitungkan sebagai desa wisata di Kabupaten Tabanan.
“Sebelum pandemi, dalam setahun kami data ada 3 ribu wisatawan domestik dan asing, yang menjadi favorit adalah jalur trekking, biasanya orang Eropa, seperti Prancis, Jerman suka trekking, des aini ada 4 jalur trekking dengan pemandangan alam yang bagus, seperti di Suradadi ke Wanasepi, Durentaluh ke Singsing Sade, Mekori ke Singsing Benben dan Mekori ke Jalur Timur ke Belimbing Desa, kisaran rute 6 kilometer,” ujarnya.
Hutan Mekori yang terdapat di Desa Belimbing menyimpan pohon-pohon lokal yang berusia mencapai ratusan tahun sekaligus menjadi supplay mata air desa, sehingga eksistensi hutan sebagai sumber mata air terus dijaga.
Nyoman menjelaskan, asal usul nama Belimbing bukan karena desa ini penghasil buah Belimbing namun karena bentangan alam secara geografis dari perbukitan, permukiman dan persawahan yang berbentuk seperti buah Belimbing.
“Potensi Sumber Daya Alam desa ini harus digenjot dan dipoles untuk sebuah kemajuan desa, warga kami memiliki visi misi, Sadar Bijaksana dan Cerdas, yakni kesadaran untuk memelihara membangun wilayah, hak kewajiban sebagai masyarakat menjadi orang bijaksana, cerdas melihat potensi alam sekitar untuk membangun desa,” tuturnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.