Berita Jembrana

18 Kasus Gigitan di Jembrana, 2 Meninggal Bergejala Rabies, Rancang Pararem dan Bentuk Satgas Rabies

Kasus rabies di Jembrana, selama dua bulan terakhir di tahun 2023 sudah tercatat 18 kasus gigitan anjing positif rabies

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Petugas dari Keswan Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana saat melakukan vaksinasi rabies di wilayah Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Jembrana, Selasa 7 Maret 2023 - 18 Kasus Gigitan di Jembrana, 2 Meninggal Bergejala Rabies, Rancang Pararem dan Bentuk Satgas Rabies 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Rabies meneror Jembrana. Jumlah kasus pada 2022 lalu mencapai 208.

Sedangkan selama dua bulan terakhir di tahun 2023 sudah tercatat 18 kasus gigitan anjing positif rabies. Dua warga pun meninggal dengan ciri-ciri rabies.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana meminta setiap desa dan kelurahan membentuk Satgas Rabies atau yang mereka namai Tim Siaga Rabies (Tisira).

Dengan satgas ini diharapkan kasus rabies bisa ditekan dari level desa. Selain itu, Pemkab juga sudah memberi contoh pararem rabies.

Baca juga: Bupati Karangasem Dorong Desa Adat di Karangasem Bali Buat Pararem Untuk Tekan Gigitan Rabies

"Kami sudah mengumpulkan semua perangkat desa dengan tujuan bisa membuat tim siaga rabies di setiap desa dan kelurahan," ujar Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Widarsa, Rabu 8 Maret 2023.

Dalam struktur tim tersebut perbekel dan lurah bertindak sebagai ketua tim.

Bendesa adat sebagai sekretaris, dengan komposisi anggota Babinsa, Bhabinkamtibmas, bidan desa, polprades, seluruh kelian.

Tim ini nantinya memberikan edukasi terhadap masyarakat mengenai upaya penekanan serta memberikan pemahaman bahaya rabies.

Sementara ini, baru satu desa di Jembrana yang membentuk satgas ini.

"Karena pekerjaan atau penanganan rabies ini harus diikuti seluruh stakeholder di tingkat desa bahkan banjar. Untuk Jembrana, hanya Desa Batuagung yang sudah membentuk tim tersebut," tegasnya.

Selain desa dinas, kata Widarsa, pihaknya juga sudah memberikan contoh pararem kepada seluruh desa adat.

Untuk saat ini, Desa Adat Baler Bale Agung bersama Majelis Desa Adat (MDA) Jembrana masih menggodok pararem tersebut agar bisa segera diterapkan.

"Desa Adat Baler Bale Agung sudah difasilitasi oleh MDA. Mudah-mudahan ini bisa segera bisa dilaksanakan," demikian tandasnya.

Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinas Kesehatan Jembrana, Ida Bagus Made Adnyana mengatakan, terbentuknya Tim Siaga Rabies di masing-masing desa, minimal masyarakat menjadi memperoleh pemahaman yang lebih tentang rabies.

Kata dia, terkait isu-isu kesehatan secara utuh, masyarakat cenderung belum mengetahui sepenuhnya.

Masyarakat hanya tahu sampai tahap mencuci luka setelah terjadi gigitan. Ia minta masyarakat ke faskes jika mengalami gigitan oleh HPR.

Dengan demikian, mereka akan mendapatkan vaksin anti rabies.

"Nah untuk membawa ke faskes dengan tujuan melapor dan mendapat penanganan minimal pemberian VAR," kata Ida Bagus Made Adnyana. (mpa)

Pemahaman untuk Pencegahan

Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinas Kesehatan Jembrana, Ida Bagus Made Adnyana mengatakan, dalam tiga bulan di tahun 2023 ini, Jembrana sudah mencatat dua orang warga meninggal dunia dengan riwayat gigitan anjing.

Jadi dengan pemahaman yang akan diberikan oleh tim siaga rabies ini, ia berharap kasus serupa bisa dicegah.

"Jembrana sampai saat ini (tiga bulan) sudah tercatat dua orang (meninggal) suspek rabies. Kami harap tidak bertambah seiring bertambahnya pemahaman masyarakat," tandasnya. (mpa)

Kumpulan Artikel Jembrana

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved