Pemilu 2024

Lawan Incumbent dengan Modal Sekolah Alam, NasDem Tarungkan Ni Wayan Sukadani di Selemadeg Raya

Selain menurunkan para politikus untuk bertarung sebagai calon legislatif, NasDem juga menggandeng new comer yang punya modal politik cukup besar.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Istimewa
Satu di antara new comer yang ditarungkan adalah Ni Wayan Sukadani. Dia akan maju dalam Pileg 2024 mendatang untuk berebut kursi DPRD Tabanan dari Dapil II wilayah Selemadeg Raya (Selamdeg, Selemadeg Timur, Selemadeg Barat dan Pupuan). 

Dirinya memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya, dan ada ruang kelas.

Untuk kegiatan menari, masatua Bali, dan pembuatan atau mengolah tipat di pekarangan rumahnya.

Untuk Bahasa Inggris dilakukan di dalam ruangan kelas. Mereka ada sekitar 30-an orang dari SDN 3 Bantas.

“Itu tergantung dari adik-adik sendiri, kalau antusias maka akan ramai. Kalau tidak ya hanya beberapa saja.

Dan saya bercita-cita ketika ada rejeki hendak mengembangkan. Jadi bukan hanya siswa SD 3 Bantas,” jelasnya.

Terkait pertarungannya di Pileg nanti, Sukadani tidak gentar akan berhadapan dengan para incumbent.

Bahkan di wilayah Kecamatan Selemadeg Timur saja, dirinya akan menghadapi tiga orang laki-laki incunbent, yakni I Wayan Edi Nguraha Giri dan I Made Muskadana dari PDIP serta I Ketut Budi Adnyana dari Golkar.

Incumbent lain yang terjun di Dapil II, ialah I Putu Gede Juliastrawan dari Gerindra, serta I Made Suardika, I Gede Purnawan, AA Nyoman Dharma Putra, I Gusti Nyoman Omardani, Ni Made Suryani dan Ni Nyoman Ayu Wahyuni dari PDIP.

Sukadani menyebut, dirinya maju bukan untuk mengalahkan seseorang. Namun, membawa aspirasi untuk bisa diperjuangkan di tingkat lebih tinggi.

“Saya hanya menampung aspirasi atau nantinya akan menjadi penyambung lidah dari teman-teman. Jadi ini bukan kepentingan pribadi. Saya tidak ambisius untuk menjadi. Kalau pun tidak jadi, ya tidak apa-apa. Saya tetap akan menjalankan cita-cita untuk mengabdi ke masyarakat lewat pendidikan dan kegiatan sosial lainnya,” ujarnya.


Selain peduli kepada anak-anak, Sukadani juga membuat kelompok dengan ibu-ibu yang suaminya berkerja di bidang pariwisata.

Terutama suami yang merantau keluar dari kampung halamannya. Sukadani membuat kelompok tanam cabai. Hal ini merespons persoalan ekonomi ketika harga cabai mencapai angka Rp 100 ribu. Seluruh masyarakat ribut.

Padahal, ada hal yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Maka dari itu, Sukadani bersama ibu-ibu membagikan tanaman cabai.

“Tidak hanya soal cabai. Tapi memang banyak keluhan masyarakat yang harusnya diakomodir. Terutama perempuan ya. Mau tidak mau, ide perempuan itu bisa membawa kabupaten atau negara ini menjadi lebih baik.

Contohnya cabai harga mahal. Kan kita tidak makan cabai sekilo setiap hari. Saya tidak pernah masalah dengan cabai (harga) 100 ribu. Dengan dua pohon cabai di rumah tidak pernah kehabisan untuk saya konsumsi,” ungkapnya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved