Berita Bangli

Putu Malini, Remaja Kintamani Bangli yang Alami Kelainan Genetik Pada Kulit, Simak Beritanya

Putu Malini merupakan anak pertama, dari enam bersaudara pasangan suami istri I Gede Yasa (43) dan Ni Luh Sari (43).

Istimewa
Kelainan Genetik - kelainan genetik pada kulit Putu Malini. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Seorang remaja berusia 23 tahun asal Banjar Desa, Desa Sukawana, Kintamani mengalami kelainan genetik.

Sekujur kulit remaja perempuan bernama Putu Malini itu mengelupas seperti bersisik.

Putu Malini merupakan anak pertama, dari enam bersaudara pasangan suami istri I Gede Yasa (43) dan Ni Luh Sari (43).

Selama ini Putu Malini tidak pernah merasakan bangku sekolah.

Selain karena kondisi kulit yang tidak normal, Putu Malini juga tidak bisa berjalan normal.

Kedua orang tuanya khawatir, jika anaknya sekolah justru akan dirundung teman sebayanya.

"Anak saya sekarang sedikit demi sedikit sudah bisa membaca dan itu diajarkan oleh adik-adiknya," ucap Gede Yasa, Rabu (12/4/2033).

Sejatinya, pasangan suami istri yang keseharian sebagai buruh tani ini, sudah berupaya melakukan pengobatan untuk anak sulungnya itu.

Ketika diperiksa oleh tim medis dikatakan jika kondisi Putu Malini adalah kelainan genetik.

Baca juga: Pemkab Buleleng Tegas Pertahankan Aset Lahan di Batu Ampar

Baca juga: Dishub Buleleng Buka Layanan Ramp Check Gratis Jelang Mudik Lebaran 2023

Baca juga: THR Untuk Pegawai di Badung Bali Dipastikan Cair Sebelum Hari Raya Idul Fitri 2023

Kelainan Genetik - kelainan genetik pada kulit Putu Malini.
Kelainan Genetik - kelainan genetik pada kulit Putu Malini. (Istimewa)

Kendati demikian sejak sekitar 10 tahun terakhir, pihaknya tidak lagi melanjutkan pengobatan ke dokter maupun rumah sakit. Hal ini tidak terlepas karena biaya, mengingat pasutri ini hanya bekerja sebagai buruh tani.

Beruntung pemerintah Kabupaten Bangli tanggap mengenai hal ini. Pihak Dinas Kesehatan telah mendatangi lokasi kediamannya untuk mengecek kondisi Putu Malini.

Dan rencananya, Putu Malini akan dibawa berobat ke dokter spesialis. "Kami berharap anak kami bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut," ucapnya.

Sementara itu, ibunda Putu Malini yang bernama Luh Sari mengaku tidak ada yang aneh pada masa kehamilannya dulu.

Hanya saja Luh Sari sempat mengalami pecah ketuban. Namun karena tidak merasa sakit, saat itu ia hanya mendiamkan saja selama seminggu.

"Saat itu kehamilan pertama, saya belum tahu apa-apa. Karena tidak ada rasa sakit jadi saya diamkan," ungkap Luh Sari.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved