Berita Denpasar

Sepi Pembeli, Penjual Oleh-oleh di Terminal Ubung Denpasar Kini Andalkan Jualan Makanan dan Minuman

Sepi pembeli, pedagang oleh-oleh berupa baju di Terminal Ubung Denpasar kini bergantung pada jualan makanan dan minuman.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Kartika Viktriani
Tribun Bali/Putu Supartika
Suasana penjual oleh-oleh berupa baju di Terminal Ubung Denpasar, Bali yang kini sepi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kondisi Terminal Ubung Denpasar saat ini tampak lengang meskipun musim mudik.

Hal ini juga berdampak pada pedagang oleh-oleh yang ada di kawasan tersebut.

Pedagang oleh-oleh berupa baju di Terminal Ubung Denpasar pun kini bergantung pada jualan makanan dan minuman.

Dulu mereka lebih menonjolkan penjualan baju oleh-oleh, kini mereka menonjolkan makanan dan minuman.

Setelah status Terminal Ubung jadi terminal tipe C, ditambah dengan maraknya jual beli online, dan kembali dihantam pandemi, penjualan oleh-oleh baju pun mengalami penurunan.

Salah seorang pedagang oleh-oleh berupa baju, I Gusti Ayu Sriasih mengatakan saat terminal Ubung masih menyandang status tipe B, sehari bisa mendapat jualan di atas Rp 1 juta.

“Apalagi pas mudik seperti sekarang, dulu benar-benar ramai. Sehari bisa 100 orang lebih yang beli baju untuk oleh-oleh. Kini jauh sekali, paling banyak 10 orang sehari, kadang tidak ada,” kata Sriasih saat diwawancarai, Selasa 18 April 2023 siang.

Bahkan saat hari biasa, bisa jualan baju Rp 100 ribu pun sudah bersyukur, karena bisa dalam tiga hari atau bahkan seminggu tak ada baju yang laku.

“Meskipun kalau dibandingkan saat korona, ini mulai ada peningkatan. Namun kan tidak terlalu signifikan,” katanya.

Baca juga: Sebanyak 3.138 Unit Kendaraan Keluar Bali Lewat Pelabuhan Padang Bai Karangasem

Karena keadaan tersebut, kini dirinya pun lebih bergantung pada makanan dan minuman yang dijual di sana.

Di deretan paling depan dagangannya, kini dijual aneka minuman kemasan, aneka jajanan kemasan, hingga gorengan dan kopi.

Dengan makanan dan minuman tersebut, dalam sehari ia bisa mendapatkan penghasilan berkisar Rp 50 hingga Rp 100 ribu.

Hal itu pun kebanyakan mengandalkan pada petugas yang berjaga atau sopir beberapa bus yang berbelanja makanan maupun minuman.

“Kalau wisatawan, ya hanya yang domestik saja, misalnya mau ke Gilimanuk ada satu dua yang belanja,” katanya.

Keberadaan pasar online dan tempat oleh-oleh menurutnya juga menunjang turunnya omzet penjualan harian.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved