Berita Jembrana

6 Bulan Perbaiki Rumah Setelah Banjir Bandang, Kadek Budra Ungsikan Keluarga Jika Mendung Sore Hari

I Kadek Budra (56), pelan-pelan memperbaiki rumahnya, setelah rusak diterjang bencana banjir bandang enam bulan lalu. Ia menata merajan.

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Suasana di halaman rumah Kadek Budra (56) yang sudah mulai ditata enam bulan setelah diterjang banjir bandang, Kamis 27 April 2023. 

TRIBUN-BALI.COM -  I Kadek Budra (56), pelan-pelan memperbaiki rumahnya, setelah rusak diterjang bencana banjir bandang enam bulan lalu. Ia menata merajan, ia juga sudah mulai membuat sumur bor.

Warga Banjar Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana ini, adalah satu dari sekian banyak korban dampak meluapnya Sungai Bilukpoh Oktober 2022 lalu. Rumahnya terletak beberapa meter dari sungai.

Bekas batas genangan air masih membekas di dinding rumahnya. Pintu dan jendela sudah diganti dengan yang baru. Budra menuturkan, ia memberanikan untuk tinggal kembali di rumah lamanya usai diterjang banjir bandang.

Baca juga: Tabanan Setop Kirim Babi ke Jakarta, Pembeli Sepihak Turunkan Harga Rp 4.000 Per Kilogram

Baca juga: Rahmat Diupah Rp 50 Ribu, Kini Malah Kena Denda Rp 1 Miliar, Tempel Narkoba di Sekitar Seminyak

Hujan deras di kawasan utara Jembrana menyebabkan kenaikan debit air Sungai Bilukpoh, Kecamatan Mendoyo, Kamis (27/4). Sejumlah warga memantau debit air. Oktober tahun lalu, Jembatan Bilukpoh-Penyaringan diterjang banjir bandang.

Warga pun mengaku selalu waswas setiap melihat mendung tebal di langit utara Jembrana. Selain debit air yang meningkat, warna air Sungai Bilukpoh juga berubah menjadi cokelat pekat. Pengendara bahkan ada yang sengaja berhenti memantau kondisi Sungai Bilukpoh ini.
Hujan deras di kawasan utara Jembrana menyebabkan kenaikan debit air Sungai Bilukpoh, Kecamatan Mendoyo, Kamis (27/4). Sejumlah warga memantau debit air. Oktober tahun lalu, Jembatan Bilukpoh-Penyaringan diterjang banjir bandang. Warga pun mengaku selalu waswas setiap melihat mendung tebal di langit utara Jembrana. Selain debit air yang meningkat, warna air Sungai Bilukpoh juga berubah menjadi cokelat pekat. Pengendara bahkan ada yang sengaja berhenti memantau kondisi Sungai Bilukpoh ini. (Coco)

Beberapa warga lainnya yang menjadi korban banjir memilih untuk tinggal di tempat kerabat bahkan ada yang mengontrak rumah di tempat lain. "Sebulan setelah banjir bandang itu saya sudah tinggal disini. Saya perlahan tata lagi," ucap dia.

Rumahnya itu dipenuhi dengan kayu-kayu besar saat banjir terjadi. Lumpur masuk ke dalam ruangan. Sedangkan satu bangunan di sebelah utara dapur hilang disapu besarnya arus sungai yang meluap.

Setelah turun bantuan dana stimulan senilai Rp 50 juta dari Pemprov Bali, uang itu ia digunakan untuk memperbaiki rumahnya secara bertahap. "Pelan-pelan, dapat uang hasil kerja saya perbaiki beberapa bagian rumah seperti tiang di depan rumah saya ini patah dulu diterjang banjir," ucapnya.

Namun begitu, kata dia, rasa waswas selalu muncul saat mendung. Saat bencana itu terjadi, awan gelap tebal menyelimuti langit utara. Kini saat ada awan tebal di utara pada sore hari, ia langsung mengungsikan diri ke rumah mertuanya di Desa Penyaringan.

"Kalau siang masih bisa kita lihat. Kalau sudah sore sampai malam saya memilih untuk mengungsi ke rumah mertua. Semoga saja jembatan baru jadi dibangun tahun depan sehingga kami tidak perlu khawatir lagi jika hujan deras di utara karena kayu bakal lewat tanpa menghambat jembatan," kata dia.

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra mengatakan, ada dua daerah aliran sungai (DAS) di Jembrana yang menjadi atensinya, yakni DAS Bilukpoh dan DAS Gelar. Dua DAS ini rawan meluap hingga ke pemukiman warga.

Khusus Sungai Gelar, mengalami peningkatan debit air yang drastis. Air mengalir deras hingga nyaris menyentuh landasan jembatan gantung yang baru dibangun akhir 2022 lalu. Jembatan Gantung Gelar, Desa Batuagung ini salah satu jembatan yang rusak total karena banjir bandang tahun lalu.

"Meskipun tak sampai meluap, kami sudah tugaskan personel untuk memantau agar lebih mudah koordinasi jika semisalnya peningkatannya terus terjadi dan sampai meluap. Kami juga sudah imbau warga agar tetap waspada terhadap risiko bencana alam. Karena bencana alam bisa terjadi, dimana dan kapan saja," tandasnya. (mpa)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved