Berita Tabanan
Sukses di Dua Desa, 4 Desa Tambahan Program CP3 Lakukan Pemetaan Potensi Risiko Kesehatan Masyarakat
Sukses di dua desa di Tabanan, empat desa tambahan Program CP3 kini lakukan pemetaan potensi risiko kesehatan masyarakat.
Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Putu Kartika Viktriani
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Setelah berhasil dalam penanggulangan rabies dan demam berdarah, PMI Kabupaten Tabanan dipercaya untuk meneruskan program Community Epidemic and Pandemic Preparedness Program (CP3).
Program lanjutan tersebut dilakukan dengan memperluas jangkauan ke empat desa yang ada di Kabupaten Tabanan, Bali.
Empat kabupaten tersebut diantaranya Desa Kukuh, Desa Bengkel, Desa Samsam, dan Desa Beraban yang berada di empat kecamatan berbeda.
PMI Kabupaten Tabanan pun melakukan Pemetaan Potensi Risiko Kesehatan Masyarakat di empat desa program CP3 tersebut pada 12-16 Mei 2023.
I Nyoman Sukawirma selaku Koordinator program CP3 mengatakan pemetaan akan berjalan selama lima hari.
Mereka sendiri telah melakukan persiapan sebelum pelaksanaan pemetaan yang didukung oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat.
“Hari pertama kami dibantu oleh rekan-rekan dari PMI Pusat memberikan pembekalan terlebih dahulu untuk tim sebelum mereka turun ke lapangan.
Nanti di hari kedua hingga hari kelima barulah pemetaan di lapangan atau di desa dilaksanakan masing-masing,” kata I Nyoman Sukawirma.
Baca juga: Baru 59 Desa Adat di Buleleng Bali Tuntas Buat Perarem Rabies
Dalam pengantar atau pembekalan, tim diberikan penjelasan terkait wawasan seputar pemetaan potensi risiko kesehatan dengan mengidentifikasi dan menganalisis kondisi desa.
Proses ini akan melibatkan penggunaan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan alat analisis spesial lainnya.
Anggi Ardiansyah, Staf Divisi Kesehatan dan Sosial PMI Pusat menjelaskan penggunaan alat tersebut untuk memvisualisasikan distribusi risiko kesehatan.
Hal tersebut berdasarkan berbagai faktor seperti bahaya lingkungan, prevalensi penyakit, kondisi sosial-ekonomi, akses layanan kesehatan, dan indikator lainnya.
Disamping itu, Anggi juga menjelaskan peta risiko kesehatan ini dapat berguna bagi para ahli kesehatan masyarakat ataupun pembuat kebijakan.
“Ini akan berguna sebagai bahan untuk mengidentifikasi area atau wilayah yang memiliki tingkat risiko kesehatan yang tinggi.
Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif dan memprioritaskan sumber daya untuk mengurangi risiko kesehatan di wilayah tersebut,” kata Anggi Ardiansyah.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.