Berita Buleleng
BMKG Akan Pasang Sensor Tsunami di Buleleng, Sejarah Gempa 6,2 SR Tahun 1976 Renggut 559 Nyawa
BMKG memasang satu alat sensor pendeteksi tsunami di Desa Pengastulan, pernah diguncang gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar berencana memasang satu alat sensor pendeteksi tsunami di Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali.
Otoritas menargetkan pemasangan sudah dilakukan tahun ini.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengatakan, bersama BMKG, pihaknya telah melakukan survei lokasi terkait rencana pemasangan alat sensor ini.
Mulanya ada empat lokasi yang masuk dalam survei tersebut di antaranya di Eks Pelabuhan Buleleng Kecamatan Buleleng, di Pelabuhan Sangsit Kecamatan Sawan, perairan Desa Sumberkima Kecamatan Gerokgak, serta perairan Desa Pengastulan Kecamatan Seririt.
Baca juga: ITDC Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Kawasan The Nusa Dua
Dari survei, Desa Pengastulan dinilai sebagai lokasi yang tepat untuk dipasangi alat sensor pendeteksi tsunami.
Desa ini pernah diguncang gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR) pada tahun 1976 silam hingga menelan ratusan korban jiwa.
Dalam situs BMKG, catatan kelam bencana yang juga dikenal dengan sebutan Gempa Seririt itu menelan korban tewas sebanyak 559 orang, luka berat 850 orang dan luka ringan 3.200 orang.
Selain itu, Desa Pengastulan dipilih lantaran jarak antara laut dan daratan ketika terjadi air surut cukup pendek, yakni hanya dua meter.
Sementara di tiga wilayah lainnya jaraknya cukup panjang sekitar 20 hingga 50 meter.
Selain itu di sepanjang pantai Desa Pengastulan juga telah dibangun tanggul pembatas.
Sehingga bangunan berukuran 2x1,5 meter yang dibuat sebagai tempat penyimpanan alat pendeteksi tsunami akan lebih aman.
"Jadi memang dalam pemasangan alat ini, saat air surut jarak antara daratannya harus pendek. Karena di bangunan itu nanti akan dipasang sensor yang alatnya harus menyentuh dengan air laut," demikian ujarnya, Minggu 14 Mei 2023.
Pemasangan alat sensor pendeteksi tsunami ini, kata Ariadi akan dilakukan oleh BMKG pada tahun ini.
Alat tersebut nantinya akan memberikan deteksi pergerakan air laut yang dapat langsung dibaca oleh BMKG untuk selanjutnya disebarkan kepada masyarakat sebagai bentuk mitigasi.
Selain itu pada 30 Mei mendatang, BPBD Buleleng akan menggelar program sekolah lapang gempa bumi.
Dalam program ini akan dibentuk relawan pengurangan risiko bencana.
Relawan itu nantinya akan diberikan pemahaman terkait gempa yang berpotensi tsunami serta latihan simulasi jalur evakuasi dan titik kumpul yang aman.
"Gempa di Seririt kan pernah terjadi 2019 lalu, banyak masyarakat yang lari karena menerima kabar hoaks yang menyebut air laut naik. Jadi untuk mengantisipasi itu kami akan simulasikan titik kumpul yang aman dimana, supaya masyarakat paham," tandasnya. (rtu)
Kumpulan Artikel Buleleng
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.