Dokter Praktik Aborsi Diamankan
Buntut Penangkapan Ketut AW dengan Ribuan Pasien, Maraknya Kasus Gugurkan Kandungan di Bali
tabir gelap maraknya kasus aborsi di Bali, tak boleh dilakukan di RS, PHDI: dosa tak terhapuskan
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Akibatnya, Pinkan pun hamil dan terpaksa mengugurkan kandungannya agar dapat bersekolah lagi.
“Saya melakukannya di salah satu rumah sakit di Kota Denpasar. Waktu itu dimintai persetujuan orangtua, dan biayanya sekitar Rp 15 juta,” kata Pinkan, Rabu 24 Mei 2023.
Umur kandungan Pinkan saat melakukan aborsi sekitar 3 mingguan, dimana sel telur yang telah dibuahi akan mulai berkembang dan membentuk sebuah kantung yang berisi bakal janin (embrio) dan plasenta.
Sel darah janin pun mulai terbentuk dan ratusan sel lainnya ikut berkembang, lalu sirkulasi darah pun dimulai.
Saat itu Pinkan hanya pasrah saja, merenungi semua yang telah ia lakukan dan metode aborsi pun dilakukan.
Kini Pinkan bisa melanjutkan pendidikannya lagi tanpa seorang temannya di sekolah tahu kalau ia baru saja melakukan aborsi.
Sementara itu, seorang ibu rumah tangga di Kota Denpasar yang kini berusia 26 tahun, sebut saja Tika, juga sempat terbesit untuk melakukan aborsi saat usianya 19 tahun.
Saat itu, Tika masih kuliah semester 3 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bali.
Intensitasnya melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya saat itu yang kini menjadi suaminya, sebut saja Heri, memang cukup sering.
“Dulu itu aku penasaran saja sama dia (suaminya) kita coba buat tidak pakai kondom (alat kontrasepsi), eh ternyata aku hamil,” kata Tika.
Dalam keadaan panik, Tika dan Heri pun belum memberitahu orangtua mereka.
Sementara itu usia kandungan Tika sudah memasuki usia 1 bulan lebih, yang tidak lama lagi ukuran perutnya akan lebih terlihat besar.
Mereka yang masih sama-sama kuliah ini akhirnya pergi ke sebuah klinik di Kota Denpasar yang dikenal juga dapat melakukan praktik aborsi atau menggugurkan kandungan.
“Kita ke sana, awalnya dijelasin apa saja dampaknya setelah melakukan aborsi. Mereka (tim medis) bilang kalau aborsi bisa pendarahan sampai meninggal. Dan mereka juga minta persetujuan orangtua untuk itu. Waktu itu kalau tidak salah mereka minta tarifnya Rp 10 juta atau Rp 15 juta,” tambahnya.
Tim medis waktu itu bertanya meyakinkan Tika dan Heri apakah janin tersebut memang tidak bisa untuk dipertahankan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.