Berita Badung

Gangguan Niskala Saat Pembongkaran Tower di Badung, Alat Kerja Tak Kelihatan, Api Las tak Hidup!

Banyak hambatan yang dihadapi Pemkab Badung. Tower berdiri di perumahan warga, karena cuaca mapun gangguan niskala.

Istimewa
Bongkar Tower - Tim Satpol PP Badung saat bergerak melakukan pembongkaran tower bodong. 

TRIBUN-BALI.COM  - Pembongkaran Tower atau menara telekomunikasi dan Base Transceiver Station (BTS) yang berdiri tanpa izin alias bodong di wilayah Kabupaten Badung tidak selamanya berjalan mulus.

Banyak hambatan yang dihadapi Pemkab Badung. Tower berdiri di perumahan warga, karena cuaca mapun gangguan niskala.

Kendati demikian, pembongkaran tetap dilakukan agar selesai sesuai target yang ditetapkan. Mengingat semua itu adalah komitmen Pemkab Badung dalam penanganan tower Bodong yang sedang di-Lidik oleh Bareskrim Mabes Polri.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Badung I GAK Suryanegara mengakui jika banyak hambatan yang terjadi dalam proses pembongkaran tower tersebut. Selain karena pengaruh cuaca, ada juga karena lokasi tower di perumahan warga, sehingga harus ekstra hati-hati.

"Misalnya, kalau sudah hujan meski gerimis sangat berpengaruh pada kerja, selain licin juga khawatir petir. Begitu juga lokasinya yang di perumahan kita harus ekstra hati-hati karena kita memakai alat las, terutama bangunan-bangunan yang mengapit menara tersebut," jelasnya sembari mengatakan, keselamatan dan keamanan atau risiko ketimpa material dan percikan api itu yang dipikirkan.

Selain itu, Suryanegara menyebutkan ada juga tower yang berdiri di lingkungan sekitar atau lokasinya di dalam hotel, airport, dan restoran. Begitu juga ada yang berdiri di tengah sawah yang sangat sulit membawa materialnya saat musim tanam.

Baca juga: Megawati Tantang Jadi Nol Persen! Minta BKKBN Turunkan Angka Stunting

Baca juga: Juli Tewas Saat Panen Terumbu Karang, Tenggelam di Water Bee Teluk Gilimanuk Jembrana

Bongkar Tower - Tim Satpol PP Badung saat bergerak melakukan pembongkaran tower bodong.
Bongkar Tower - Tim Satpol PP Badung saat bergerak melakukan pembongkaran tower bodong. (Istimewa)

"Kalau di hotel dan yang lainnya kita dikasih kerja-nya malam-malam atau tidak menimbulkan kegaduhan. Bahkan kita juga diminta agar tidak ribut," jelasnya.

Namun birokrat asal Denpasar itu mengaku, yang paling tidak masuk akal juga terdapat gangguan niskala.

Bahkan gangguan niskala ini kerap terjadi di lahan-lahan yang kosong, sehingga harus dilakukan upacara mepiuning dengan menghaturkan sesajen atau mebanten. "Ini menurut tukang, diganggu secara niskala.

Beberapa kejadian yang dialami saat pembongkaran seperti gangguan alat-alat kerja bisa-bisa tidak kelihatan, nyala api las tidak hidup-hidup. Pokoknya tidak masuk akal," bebernya.

"Kalau hal non-teknis lainnya juga ada, misal dicari orang-orang yang memanfaatkan kesempatan seperti pemulung atau orang-orang yang tidak berkepentingan ikut mau abil besi dan yang lainnya," sambungnya.


Lebih lanjut pihaknya mengaku, meski banyak gangguan tetap menjalani dan berharap proses pembongkaran bisa selesai sesuai target. "Yang terakhir ini kita target selesai Hari Raya Kuningan sudah kelar," imbuhnya.


Sebelumnya Suryanegara menyebutkan, Satpol PP Badung sudah melakukan pembongkaran tahap III.

Tahap I ada 38 menara atau BTS yang dibongkar. Selanjutnya tahap II ada sebanyak 31 menara atau BTS yang dibongkar.

"Sekarang kita lanjutkan tahap III, dan baru 7 menara atau BTS yang kita bongkar dari 40 menara. Sehingga pembongkaran belum tuntas, namun masih sedang berlangsung," ujarnya.


Dia menargetkan setelah Hari Raya Kuningan atau akhir Bulan Agustus 2023, pembongkaran bisa selesai. (gus)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved