Berita Nasional

Megawati Tantang Jadi Nol Persen! Minta BKKBN Turunkan Angka Stunting

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, menantang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menurunkan angka stunting menjadi

Youtube Tribunnews
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, menantang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menurunkan angka stunting menjadi 0 persen dalam rentang waktu 13 tahun ke depan. Hal itu disampaikan Megawati pada acara penghargaan penggerak cegah stunting yang digelar Tribun Network bersama BKKBN di Studio I Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Senin (17/7). 

TRIBUN-BALI.COM  - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, menantang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menurunkan angka stunting menjadi 0 persen dalam rentang waktu 13 tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Megawati pada acara penghargaan penggerak cegah stunting yang digelar Tribun Network bersama BKKBN di Studio I Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Senin (17/7).

"Ayo Pak Hasto (Hasto Wardoyo, Kepala BKKBN). Sekarang berapa jumlahnya persentase stunting? 21,6 persen kan. Dalam 13 tahun bisakah jadi 0 persen? Ayo ini tantangan loh," kata Megawati yang direspon dengan senyuman oleh Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo.

Megawati meminta semua pihak agar bekerja sama agar angka stunting 0 persen itu bisa tercapai dalam 13 tahun ke depan. "Coba bayangkan. Jadi kapan kita mau maju kapan? 13 tahun loh adik-adik," ujar Megawati.

Baca juga: Juli Tewas Saat Panen Terumbu Karang, Tenggelam di Water Bee Teluk Gilimanuk Jembrana

Baca juga: Jumlah Penduduk Miskin Turun! Catatan BPS Jadi 25,9 Juta Orang Pada Maret 2023

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, menantang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menurunkan angka stunting menjadi 0 persen dalam rentang waktu 13 tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Megawati pada acara penghargaan penggerak cegah stunting yang digelar Tribun Network bersama BKKBN di Studio I Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Senin (17/7).
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, menantang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menurunkan angka stunting menjadi 0 persen dalam rentang waktu 13 tahun ke depan. Hal itu disampaikan Megawati pada acara penghargaan penggerak cegah stunting yang digelar Tribun Network bersama BKKBN di Studio I Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Senin (17/7). (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini juga menyinggung program BKKBN mencegah stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Dia meminta agar menjadi 2.000 hari pertama. "Supaya apa? Saya bisa lihat monitoring oh ini anak koyo opo," ujar Megawati.

Dalam acara tersebut Megawati menerima penghargaan sebagai Inspirator dan Penggerak Cegah Stunting di Indonesia. Selain Megawati, ada sejumlah tokoh yang menerima penghargaan yakni Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Emi Nurjasmi serta Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau Mbak Ita. Penghargaan tersebut diberikan oleh CEO Tribun Network, Dahlan Dahi dan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra.

Walikota Semarang Mbak Ita mengatakan, penghargaan diterima lantaran Kota Semarang jadi kota yang berhasil menurunkan angka stunting cukup signifikan dari 21,3 persen pada 2021 menjadi 10,4 persen tahun 2022 atau berhasil menurunkan stunting sebesar 11 persen dalam kurun 1 tahun.

Ia mengatakan Kota Semarang punya tagline bergerak bersama dalam upaya penurunan angka stunting. Yakni perangkat pemerintah kota bersama BKKBN dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) serta tim penggerak PKK melakukan kegiatan bersama dengan anggaran yang dikumpulkan ke dalam satu prioritas tersebut.

Ita mengatakan, Pemkot Semarang juga turut melibatkan generasi muda dalam sosialisasi stunting. Yakni para anak muda tersebut mengajak teman-temannya untuk tidak menikah muda. Program Dahsyat yaitu Dapur Sehat Atasi Stunting, juga dibentuk yang terinspirasi buku buatan dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang berisi resep-resep masakan sehat dan murah, tapi membantu pemenuhan gizi anak-anak.

“Dari buku itu kita implementasikan di semua dasawisma tim penggerak PKK sehingga ini yang menjadi salah satu penyebab turunnya stunting karena ibu - ibu diajak masak,” katanya.

Ada pula program Rumah Pelita yang dibentuk untuk menangani baduta atau bayi dua tahun penderita stunting. Lewat Rumah Pelita ini 'baduta' diberi makanan bergizi dan pola asuh yang sesuai. “Mungkin ini bisa dijadikan contoh juga bahwa dalam waktu 3 bulan anak anak ini naik sekitar setengah kilogram dan tingginya tumbuh sekitar 0,5-1 cm,” kata Ita.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurjasmi yang juga menerima penghargaan mengatakan, perempuan bersama bidan punya peran penting dalam pencegahan stunting dari dalam keluarga. "Perempuan dengan bidan, bermitra. Jadi kami punya tagline bidan sahabat perempuan. Karena memang kita di Indonesia bidan itu, semuanya perempuan," ujar Emi.

Ia pun menjelaskan jika tugas bidan memiliki urusan yang erat dengan perempuan. Hal ini dimulai dari sepanjang kesehatan siklus reproduksi, sebelum kehamilan, saat hamil, melahirkan hingga pelayanan alat kontrasepsi. Termasuk bayi dan balita.

Apalagi, bidan dan perempuan sangat mudah untuk berkomunikasi. "Karena kita ada di tengah masyarakat mudah di akses. Lebih 400 ribu bidan, sekitar 75 persen ada di masyarakat. Seperti pelayanan primer, puskesmas dan sebagainya," papar Emi.

Dari sisi edukasi ini bidan mempunyai peran mengintervensi stunting. Edukasi mulai diberikan sebelum menikah hingga sesudah kehamilan. "Kemudian tadi, bagaimana menjaga jarak kehamilan, tugas utama bidan adalah memberikan edukasi. Setelah itu kita melakukan pelayanan," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved