Longsor di Karangasem
3 Tewas Tertimbun Longsor Hendak Cari Batu di Karangasem, Perbekel Buana Giri Larang Tambang Tebing
Dalam duka, keluarga korban longsor di Dusun Kemoning, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem mempersiapkan prosesi penguburan, Selasa (12/9)
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Dalam duka, keluarga korban longsor di Dusun Kemoning, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem mempersiapkan prosesi penguburan, Selasa (12/9). Warga dan kerabat datang melayat menyampaikan belasungkawa silih berganti.
Peristiwa tragis pada Senin (11/9) pukul 11.30 Wita itu merenggut tiga nyawa. Korban tertimbun longsor saat menggali batu di tebing Sungai Taksu, Kemoning. Mereka yang meninggal I Kadek Berata, I Kadek Pasek, dan I Ketut Sueca. Sedangkan dua yang selamat yakni I Kadek Berata dan I Kadek Suardika.
Suardika adalah keponakan I Ketut Sueca. Ia saksi mata dalam peristiwa tersebut. Suardika sama sekali tak menyangka akan terjadi peristiwa tragis seperti ini. "Kami tak pernah menyangka, terlalu cepat meninggalkan kami semua," kata Suardika.
Sejak lama, Sueca bekerja sebagai tukang gali batu tabas. Namun bukan pekerjaan tetap, hanya sampingan saja. Lebih banyak dia menghabiskan waktu mengurus ternak. Aktivitas menggali batu tabas dilakoni setelah pekerjaan utamanya selesai.
"Pekerjaannya (Ketut Sueca) peternak. Menggali bebatuan tabas hanya sampingan agar bisa memenuhi kebutuhan dapur dan keperluan sekolah dua anaknya yang masih SD," kata Kadek Suardika.
Baca juga: LONGSOR di Kemuning Karangasem, BPBD Bali Salurkan Santunan untuk Korban, Simak Beritanya!
Baca juga: FIRASAT Tidak Baik! Diungkapkan Korban Selamat Longsor di Karangasem, Gali Batu Hari Kajeng Kliwon!

Penghasilan mencari batu tabas tak sebanding dengan risiko. Per orang hanya mendapat Rp 1,4 juta hingga 1,6 juta yang dikumpulkan dalam waktu dua pekan. Namun pekerjaan sampingan itu adalah maut yang mengintai. "Harga batu tabas satu truk Rp 7-8 juta. Untuk dapat satu truk butuh waktu dua pekan," kata dia.
Hasil penjualan batu dibagi rata anggota kelompok penambang. Pendapatan tergantung jumlah kelompok. Semakin sedikit anggotanya, semakin banyak uang yang didapat, begitu juga sebaliknya. "Biasanya kami gali di sekitar lahan warga," kata dia,
Perbekel Desa Buana Giri, I Nengah Diarsa mengatakan, lokasi lahan yang ditambang berpindah-pindah. Warga hanya mencari batu tabas karena jenis batuan lain di wilayah tersebut tidak laku terjual.
Kata Diarsa, tidak ada lokasi penambangan di wilayah Kemoning. Namun ada beberapa daerah yang berpotensi ditemukan batu jenis tabas dan pasir. Setelah musibah ini, ia akan mendata warga yang bekerja sebagai pencari batu tabas
"Kami akan data berapa jumlah warga Desa Buana Giri terutama di Kemoning yang kerja sebagai pencari batu. Kami akan menyosialisasikan dan mengimbau para warga untuk tidak mencari batu di dekat tebing," kata Diarsa.
Peristiwa ini, kata dia, harus jadi bahan evaluasi. Ia tak mau ada korban lagi. Maka Diarsa mulai sekarang melarang aktivitas penggalian batu tabas di tebing. "Saya minta warga tak mencari batu di tebing," demikian pesannya.
Ia mengatakan, peristiwa longsor merenggut korban jiwa pernah terjadi tahun 2009. "Tahun 2009 pernah ada warga tukang cari pasir tertimbun material longsor. Lokasinya sama dengan peristiwa yang sekarang. Memang daerah ini, Sungai Taksu, angker. Tapi banyak warga cari (batu) kesini," kata dia.
Satu kelompok penggali batu tertimbun tanah longsor di Dusun Kemuning, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Senin (11/9) sekitar pukul 11.30 wita. Tiga orang meninggal dunia, serta dua orang dinyatakan selamat karena sempat menghindar saat longsor.
Kadek Beratha, salah satu warga yang selamat, mengatakan, warga melakukan aktivitas menggali sekitar pukul 09.00 Wita. Anggota kelompok yang datang 4 orang. Mereka menggali dengan alat manual, seperti linggis, sekop, dan peralatan lainnya. Saat itu anggota menggali tepat di bagian tengah tebing.
"Awalnya saya berempat ke lokasi menggali tanah untuk mencari bebatuan di tebing Sungai Taksu, Banjar Kemuning. Saya menggali bersama I Kadek Pasek, Kadek Berata, serta Ketut Sueca. Tiga teman saya tertimbun material longsoran," kata I Kadek Beratha ditemui di lokasi, Senin (11/9).
Proses evakuasi menggunakan alat berat dibantu warga dan polisi, BPBD Karangasem, perangkat Desa Buana Giri, dan warga. Tiga orang penggali yang meninggal adalah I Kadek Berata serta I Kadek Pasek meninggal di tempat karena tertimbun material longsor, dan I Ketut Sueca dinyatakan meninggal saat dibawa ke RSUD Karangasem. Sedangkan yang selamat yakni I Kadek Berata dan I Kadek Suardika.

Menurut Kadek Berata, tinggi tebing diperkirakan sekitar 25-30 meter dari permukaan sungai. "Awalnya kita datang berempat ke lokasi untuk menggali batu di tebing. Yakni I Kadek Berata, Kadek Pasek, Sueca, dan saya. Rombongan bawa alat manual, seperti linggis, sekop, dan cangkul. I Kadek Suardika datangnya belakangan, pukul 10.30 Wita," kata Dek Berata, sapaannya.
Sesampai di lokasi kejadian, empat penggali memutuskan naik ke atas tebing memastikan ada atau tidaknya bebatuan jenis tabas di lokasi. Setelah dicek, ternyata ditemukan bebatuan yang dicari. Dia akhirnya melanjutkan naik ke atas. Ketut Sueca mencoba menggali di pertengahan memakai linggis dan sekopnya.
Sekitar pukul 10.30 Wita, Kadek Suardika datang memberitahu penggali untuk istirahat karena belum makan serta minum. Suardika sempat naik, tapi tak sampai ke atas. Mereka sempat mengobrol sebelum ada longsor. "Kita sudah mengumpulkan bebatuan di bawah, tapi hanya beberapa," cerita Berata dengan wajah sedih.
Setelah dua jam menggali, tiba-tiba tanah labil. Material longsor, sedangkan pohon bertumbangan. Tiga orang penggali yang ada di atas tertimbun material. Sedangkan Kadek Berata dan Kadek Suardika terpental karena terkena hantaman kayu. "Saya hanya mengalami luka bagian punggung dan khaki," kata Berata.
"Saya tak ingat apa pun. Setelah kejadian saya sudah lihat kakak dan teman tertimbun material. Yang saya lihat cuma badan Ketut Sueca, sedangkan Kadek Berata serta Kadek Pasek tidak terlihat karena tertimbun tanah. Lalu saya minta bantuan ke atas, dan Kadek Suardika menjaganya," kata Berata, pria asli Kemuning.
Kadek Suardika mengatakan, longsor datang secara tiba-tiba. Tak ada tanda atau bunyi pergerakan tanah sebelum kejadiannya. Material longsor tiba-tiba menghantam. "Saya ke lokasi untuk memberitahu agar istirahat. Soalnya dari pagi belum makan dan minum. Semua korban paman saya," kata Kadek Suardika.
Aktivitas menggali bebatuan secara manual dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Mereka berlima berkelompok untuk menggali. Setelah terkumpul, hasil penggalian batuan dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, seperti untuk biaya sekolah anak, dapur, makan dan minum.
Kadek Berata mengatakan, kegiatan menggali bebatuan sudah digeluti sejak beberapa tahun lalu. Biasanya kelompok mengali di atas, menggunakan linggis dan sekop. "Kita tak ada pekerjaan lain selain gali bebatuan untuk dijual," kata Berata.
Berata mengaku menggali bebatuan di sekitar Sungai Lembah Taksu baru pertama kali, sesuai keputusan dan kesepakatan kelompok. "Satu kelompok ada 5 orang. Seorang tak bisa ikut mencari bebatuan di Sungai Lembah Taksu karena ada halangan. Akhirnya empat orang berangkat," tambah Berata.
"Biasanya kita cari batu di lokasi lain. Kalau sudah terkumpul bebatuan dijual ke perajin tabas sekitar Buana Giri. Harganya bervariasi, tergantung jumlahnya. Pencarian batu di Sungai Lembah Taksu ini yang pertama," imbuh Dek Berata.
Tidak ada firasat apapun selama perjalanan menuju ke Sungai Lembah Taksu. Kelompok penggali bebatuan manual sempat mengobrol dan bersenda gurau sebelum longsor. "Tak ada firasat apa pun. Sebelumnya mereka ngobrol biasa dan guyon. Setelah itu naik ke atas untuk mengali bebatuan," jelas Berata.
Sementara Kadek Suardika mengaku memiliki firasat tidak baik sebelum kejadian. Mengingat medan di lokasi kejadian cukup terjal. Ketinggian tebing yang digali sekitar 25-30 meter. Selain itu, kegiatan menggali dilakukan saat kajeng kliwon.
"Sebelum kejadian saya memiliki firasat tidak baik. Biasanya sebelum menggali kita menggelar upacara, memakai banten sekitar lahan yang digali. Minimal mohon keselamatan. Hari ini tumben kelompok tidak menyuguhkan banten," kata Kadek Suardika.
Apalagi proses penggalian bebatuan dilaksanakan saat kajeng kliwon. Menurut keyakinan, kata Suardika, kajeng kliwon merupakan hari yang disakralkan. Biasanya di kajeng kliwon warga melaksanakan upacara.
Korban longsor dievakuasi menggunakan alat berat karena kondisi tanah labil, dan berpotensi terjadi longsor susulan. Jika evakuasi dilakukan secara manual dikhawatirkan lama dan memakan korban. Kapolsek Bebandem, AKP Nengah Sunia, mengaku, evakuasi korban tertimbun longsor menggunakan alat berat. Keputusan ini diambil karena dua jenazah korban masih tertimbun material di pertengahan tebing.
Pantauan Tribun Bali di lokasi, dua jenazah ditemukan dalam kondisi tertimbun tanah longsor di pertengahan tebing. Sedangkan satu orang ditemukan di pinggir dan dievakuasi. Sesampainya di RSUD korban dinyatakan meninggal. Tubuhnya mengalami luka parah. Kaki korban ada yang putus.
Keluarga korban yang melihat proses evakuasi menangis. Mereka seperti tak terima akan kepergian korban. Proses evakuasi selesai sekitar pukul 13.30 wita. Melibatkan tim gabungan dari Polsek Bebandem, BPBD Karangasem, Basarnas, Puskesmas, pengusaha galian di Bebandem, dan warga sekitar. (ful/zae)
Jangan Gali di Tempat Berbahaya
PERBEKEL Desa Buana Giri, I Nengah Diarsa, mengatakan, warga Buana Giri yang bekerja sebagai tukang gali batu tabas secara manual cukup banyak. Jumlahnya diperkirakan 15 orang. Sebagian besar dari Dusun Kemuning. Warga yang bekerja sebagai pencari batu biasanya berkelompok.
"Biasanya mereka menjajaki lahan yang berpotensi ditemukan batuan. Tidak semua masyarakat yang memiliki keahlian menggali. Yang kerja sebagai tukang gali batu kebanyakan Kemuning," kata Diarsa ditemui di lokasi, Senin (11/9).
Ditambahkan, biasanya korban menggali batu di pinggir jalan. Tumben kali ini mereka menggali batuan di Sungai Lembah Taksu. "Sebelumnya juga pernah terjadi tahun 2009. Lokasinya juga sama. Saat itu korbannya berteduh di bawah. Tiba-tiba tanah di samping ambruk, dan menimbunnya," kata Nengah Diarsa.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tak mencari batuan di tebing yang akan berpotensi longsor. "Kita minta warga mencari di sekitar lahan datar. Jangan menggali dekat tebing karena membahayakan. Memang daerah sini masih banyak ditemukan batu tabas yang masih terpendam di bawah tanah," jelasnya.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Made Rentin dalam siaran persnya mengungkapkan proses penanganan pada Senin sore, seluruh korban baik yang meninggal maupun yang luka ringan) sudah berhasil dievakuasi.
“Evakuasi dilaksanakan oleh Pos SAR Karangasem, BPBD Kabupaten Karangasem, Puskesmas Bebandem, TNI/Polri, Camat Bebandem, Kepala Desa Buana Giri beserta jajaran dan masyarakat/relawan,” jelas Rentin di Denpasar, Senin (11/9) petang.
Rentin mengungkapkan, atas musibah yang terjadi tersebut untuk penyaluran bantuan dan santunan sesuai amanat Pergub Bali No 37 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Pergub No 32 Tahun 2021 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Sosial Yang Tidak Dapat Direncanakan Sebelumnya Untuk Korban Bencana/Musibah. Terhadap korban meninggal dunia akan diberikan santunan masing-masing Rp 15 juta.
Dalam kesempatan tersebut Rentin juga mengingatkan masyarakat agar lebih hati-hati dalam melakukan aktivitas di daerah tebing curam dan berpotensi terjadi longsor. Juga untuk melakukan mitigasi awal secara mandiri dengan mengenali potensi ancaman (bencana) di sekitar tempat beraktivitas.
“Setelah tahu potensi ancaman yang ada, maka wajib siapkan skenario atau strategi penyelamatan diri terhindar dari ancaman bahaya tersebut, jika tiba-tiba kemungkinan tersebut terjadi. Jika tebing/lereng sangat curam dan kondisi tekstur tanah atau bebatuan yang relatif labil alias tidak kuat, sebaiknya hindari beraktivitas di sekitar daerah tersebut karena berpotensi terjadi longsor," tambahnya. (ful/sar)
1,5Jam Berhasil Buka Akses Jalan Sidemen-Klungkung, Plt Camat Gotong Royong Tangani Material Longsor |
![]() |
---|
MAUT Depan Mata, Tindra Firasat Buruk, Pasutri Lansia Selamat, Rumah Tertimbun Longsor di Bunutan |
![]() |
---|
Penghasilan Korban Longsor di Karangasem, Cuma Dapat 1,4 Juta per Hari Dari Mencari Batu Tabas |
![]() |
---|
LONGSOR di Kemuning Karangasem, BPBD Bali Salurkan Santunan untuk Korban, Simak Beritanya! |
![]() |
---|
FIRASAT Tidak Baik! Diungkapkan Korban Selamat Longsor di Karangasem, Gali Batu Hari Kajeng Kliwon! |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.