Berita Tabanan

Serapan Pupuk Subsidi Rendah karena Kemarau Panjang di Tabanan, Simak Beritanya 

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tabanan, Drh Ni Nyoman Ria Wati mengatakan, dari data serapan untuk pupuk bersubsidi

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Istimewa
Ilustrasi pupuk - Serapan pupuk subsidi di Tabanan rendah. Ini akibat kemarau panjang yang melanda. Serapan pupuk rendah ini terlihat dari serapan, hingga Juli 2023 lalu yang masih di bawah 40 persen dari kuota tahun ini. Malahan, jenis NPK Formula Khusus realisasinya masih nihil hingga periode yang sama. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Serapan pupuk subsidi di Tabanan rendah. Ini akibat kemarau panjang yang melanda. Serapan pupuk rendah ini terlihat dari serapan, hingga Juli 2023 lalu yang masih di bawah 40 persen dari kuota tahun ini. Malahan, jenis NPK Formula Khusus realisasinya masih nihil hingga periode yang sama.

Dari data yang dihimpun, pupuk subsidi jenis Urea dari total kuota sebesar 9.653.844 kilogram (Kg), hanya terserap sebesar 3.437.999 Kg atau 35,61 persen. Selanjutnya untuk pupuk subsidi jenis NPK dari kuota sebesar 8.394.163 Kg hanya terserap sebesar 3.032.524 Kg atau 36,13 persen, dan untuk jenis NPK Formula Khusus dari kuota sebesar 353.998 kg serapannya masih nihil.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tabanan, Drh Ni Nyoman Ria Wati mengatakan, dari data serapan untuk pupuk bersubsidi di Kabupaten Tabanan, memang masih rendah hingga Juli lalu. Dibandingkan, periode yang sama tahun lalu, tingkat serapan sudah mencapai di atas 40 persen.

“Kalau tahun lalu sudah 40 persen. Sekarang tidak sampai. Kemungkinan karena dampak El Nino tahun ini,” ucapnya Rabu 13 September 2023.

Baca juga: Dapur Nengah Sekar Ambruk Diterjang Longsor di Karangasem, Begini Kondisinya!

Baca juga: Badung Kembali Rekrut 2 Ribu Lebih PPPK, Diantaranya, Tenaga Kesehatan, Guru, dan Teknis

KERING - Serapan pupuk subsidi di Tabanan rendah. Ini akibat kemarau panjang yang melanda. Serapan pupuk rendah ini terlihat dari serapan, hingga Juli 2023 lalu yang masih di bawah 40 persen dari kuota tahun ini. Malahan, jenis NPK Formula Khusus realisasinya masih nihil hingga periode yang sama.
KERING - Serapan pupuk subsidi di Tabanan rendah. Ini akibat kemarau panjang yang melanda. Serapan pupuk rendah ini terlihat dari serapan, hingga Juli 2023 lalu yang masih di bawah 40 persen dari kuota tahun ini. Malahan, jenis NPK Formula Khusus realisasinya masih nihil hingga periode yang sama. (Tribun Bali/Rizal Fanany)

 

El Nino tahun ini, sambungnya, ditandai dengan musim kemarau panjang yang membuat debit air untuk irigasi mengalami penurunan. Perbaikan saluran irigasi dilakukan sejumlah titik.

Maka dari itu, sejumlah petani memilih untuk melakukan tunda tanam. Hal itu, untuk menghindari kerugian di tengah ancaman dampak kemarau. Untuk mengatasinya, maka mengalihkan jenis tanaman pada budi daya ke hortikultura.

“Pengembangan jagung dikembangkan di Kecamatan Selemadeg Timur dan sudah musim panen,” ungkapnya.

Nah, di luar tanaman padi maka tidak bisa memanfaatkan dari kuota pupuk bersubsidi. Sehingga itu juga mempengaruhi kecilnya serapan pupuk bersubsidi hingga Juli lalu.

Tentu saja, realisasi serapan pupuk bersubsidi, maka untuk memenuhi kebutuhan tanam padi akan pupuk bersubsidi dipastikan mencukupi pada akhir September-Oktober nanti.

“Kalaupun tidak nantinya akan dipenuhi dengan mekanisme realokasi, sehingga petani bisa melakukan penanaman dengan baik ditengah kondisi iklim yang mendukung,” bebernya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved