Berita Buleleng
Jadi Pemicu Inflasi, Pusat Salurkan Beras Bantuan Pangan
Akumulasi perekonomian di Buleleng sampai minggu ketiga bulan September menunjukan angka inflasi sebesar 0,05 persen
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Akumulasi perekonomian di Buleleng sampai minggu ketiga bulan September menunjukan angka inflasi sebesar 0,05 persen.
Hal ini dipicu oleh kenaikan harga beras.
Satgas Ketahanan Pangan Buleleng pun saat ini gencar melakukan sidak ke pasar-pasar. Selain itu pusat juga mulai mendistribusikan beras bantuan pangan.
Sekda Buleleng Gede Suyasa ditemui Senin (18/9) mengatakan sidak dilakukan untuk memantau harga beras agar bisa terkendali.
Dimana menurut data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng harga beras kualitas medium per kilogramnya saat ini tembus di angka Rp 14 ribu.
Kenaikan ini kata Suyasa terjadi lantaran hampir di seluruh Indonesia mengalami penurunan produksi akibat musim kemarau yang disebabkan oleh fenomena El Nino.
Di Buleleng pun produksi beras juga diakui Suyasa sedikit berkurang karena masa panen baru dilakukan oleh petani pada September sampai Desember.
"Daerah luar yang produksinya menurun juga mencari gabah ke daerah kita dengan harga yang lebih tinggi, sehingga walaupun produksi kita cukup tapi gabahnya dibawa ke luar Buleleng, sehingga stok kita juga berkurang," jelasnya.
Sebagai upaya untuk mengendalikan harga beras, pihaknya pun telah menugaskan Perumda Pasar dan Perumda Swatantra untuk bekerjasama dan membeli beras di wilayah Tabanan.
Selain itu Badan Pangan Nasional juga telah menyalurkan beras bantuan pangan selama tiga bulan, terhitung sejak September hingga November.
Beras bantuan pangan itu diberikan kepada 48.844 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) secara gratis.
Dengan jatah 10 kilogram per bulan per KPM. Beras tersebut mulai di salurkan ke masing-masing desa.
Suyasa juga menegaskan pihaknya membangun gerai pasar di Pasar Anyar dan Pasar Banyuasri, tujuannya untuk mengendalikan inflasi.
Ia berharap rencana pemerintah ini tidak mendapatkan penolakan dari para pedagang.
Baca juga: Proyek Jalan Lingkar Selatan Badung Berlanjut, PUPR Sebut Segmen I Sudah Hampir Rampung
"Gerai pasar itu penting, jangan disalahartikan. Kami membangun itu untuk mengintervensi harga sekiranya ada fluktuasi harga yang bergejolak tinggi, sehingga harganya bisa dikendalikan. Kalau harga tinggi, sudah barang tentu menjadi tugas pemerintah untuk turun mengintervensi sehingga kami lakukan melalui gerai itu," tandasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.