Berita Buleleng
6,7 Hektar Sawah Alami Puso Akibat Kekeringan & Fenomena El Nino di Buleleng
Di mana pada Agustus lalu dilaporkan ada 4,20 hektar sawah mengalami puso, tersebar di beberapa subak yang ada di Kecamatan Sawan dan Seririt.
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Musim kemarau akibat dampak fenomena El Nino menyebabkan 6,7 hektar lahan padi, di Buleleng mengalami gagal panen alias puso. Dinas Pertanian Buleleng menyebut jumlah ini masih tergolong kecil.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Dinas Pertanian Buleleng, dikonfirmasi Selasa (31/10/2023) mengatakan sejumlah sawah mengalami puso sejak Agustus dan terus terjadi hingga Oktober ini.
Di mana pada Agustus lalu dilaporkan ada 4,20 hektar sawah mengalami puso, tersebar di beberapa subak yang ada di Kecamatan Sawan dan Seririt.
Selanjutnya pada September lalu ada 1,99 hektar sawah mengalami puso, yang juga terjadi di beberapa subak di Kecamatan Sawan dan Seririt.
Sementara pada Oktober ini ada 55 are lahan yang mengalami puso, di salah satu subak yang ada di Kecamatan Sukasada. "6,7 hektar ini tergolong puso berat, gagal panennya rata-rata diatas 75 persen dari total lahannya," katanya.
Baca juga: Terkendala Anggaran Bahan Bakar KMP Nusa Jaya Abadi Tetap Layani 2 Kali Keberangkatan ke Nusa Penida
Baca juga: Soal Penurunan Baliho Parpol Saat Kunjungan Jokowi di Gianyar, Ini Kata Polda Bali

Kendati demikian, Suadnyana menyebut gagal panen ini masih tergolong kecil, mengingat luas lahan tanam padi di Buleleng mencapai 14 ribu hektar.
Bagi petani yang sawahnya mengalami puso, Suadnyana menyebut pemerintah tidak dapat memberikan bantuan atas kerugian yang dialami. Sebab tidak ada anggaran yang disediakan untuk hal tersebut.
Namun pemerintah sejatinya memiliki program Asuransi Usaha Rabu Padi (AUTP) yang bisa diikuti oleh petani, dengan premi yang dibayar tergolong cukup murah yakni Rp 34 ribu per hektar per satu kali masa tanam.
Dengan asuransi tersebut, petani yang mengalami gagal panen hingga 75 persen akan mendapat klaim pengganti kerugian biaya operasional Rp 6 juta per hektar.
Untuk mengantisipasi jumlah sawah yang mengalami puso kian bertambah, Suadnyana pun mengimbau kepada petani untuk beralih ke tanaman palawija atau sayur-sayuran.
Hanya saja masih banyak petani yang enggan mengikuti imbauan tersebut, lantaran untuk menanam palawija dibutuhkan modal dan biaya yang lebih tinggi.
"Kalau mau nanam jagung misalnya modalnya lebih tinggi, harus membeli bibit dan mengolah tanah. Ada juga yang pakai pengalaman tahun lalu, dikira bulan-bulan ini sudah tidak kekeringan, ternyata saat ini masih musim kemarau karena dampak fenomena El Nino," katanya. (*)
Partai Buruh Sampaikan Enam Tuntutan ke Pemkab Buleleng, Salah Satunya Hapus Outsourcing |
![]() |
---|
Seorang Pegawai Minimarket Meninggal Usai Tabrak Truk di Buleleng Bali, Alami Cedera Kepala Berat |
![]() |
---|
SALING LAPOR Antara Perbekel Selat dan Ni Wayan Wisnawati di Buleleng Berakhir Damai |
![]() |
---|
Raih Medali Emas, Tiga Atlet Woodball Harumkan Nama Buleleng Bali di Kancah Internasional |
![]() |
---|
Tabrak Lari di Buleleng Bali, Deva dan Wahyu Diturunkan di Pinggir Jalan, Korban Dirawat Instensif |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.