Nyamuk Wolbachia Cegah DBD
Pro Kontra Wolbachia, Ahli Virologi Unud Sebut Bakteri Alami Tanpa Rekayasa Genetika
Pro Kontra Wolbachia, Ahli Virologi Unud Sebut Bakteri Alami Tanpa Rekayasa Genetika
Penulis: Putu Supartika | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Program nyamuk mengandung bakteri Wolbachia di Bali menuai pro dan kontra.
Dimana nyamuk yang terkontaminasi bakteri ini digunakan untuk menekan kasus DBD.
Bahkan ada penolakan dari beberapa elemen masyarakat salah satunya Puskor Hindunesia.
Salah satu alasan penolakan tersebut karena dicurigai ada rekayasa genetika.
Dan rencana penebaran nyamuk di Kota Denpasar yang seharusnya tanggal 13 November kemarin ditunda hingga batas waktu yang tak ditentukan.
Akademisi Unud yang juga Ahli Virologi Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan jika tak ada rekayasa genetika dalam nyamuk yang mengandung Wolbachia.
Ia mengatakan jika Wolbachia adalah bakteri yang hidup di berbagai parasit, maupun tungau.
"Jadi memang alami, hidup di dalam tungau dan sama sekali tidak ada manipulasi genetika," kata Prof Mahardika saat dihubungi Selasa, 14 November 2023.
Ia mengatakan Wolbachia yang menginfeksi akan menyebabkan kemandulan pada nyamuk aedes aegypti jantan.
Baca juga: Video WNA Memungut Uang Sesari di Pantai Petitenget Viral, Diduga Karena Kehabisan Bekal
Sementara pada nyamuk betina, telur yang ditetaskan akan langsung mengandung bakteri ini.
Sehingga meskipun nyamuk tersebut menggigit tubuh, virus dengue tersebut tidak akan bereaksi.
Ia pun mengatakan jika eksperimen ini sudan dilakukan sejak lama dan melalui kajian yang lama pula.
Bahkan nyamuk ini sudah dilepaskan di Klaten Yogyakarta.
"Bahwa Wolbachia diujicobakan di Yogyakarta menyebabkan terjadinya penurunan kasus Dengue 70 persen. Sudah ada paper yang dipublish secara internasional tentang itu," imbuhnya.
Ia pun mengatakan jika nyamuk ini tidak ada pengaruhnya pada alam, dan tidak mengganggu ekosistem.
Selain itu, bakteri ini juga tidak menulari manusia maupun hewan.
"Dia hanya bakteri yang hanya hidup pada tubuh nyamuk, tungau dan parasit. Tidak bisa menginfeksi hewan, tidak ada masalah dalam kesehatan," katanya.
Bahkan hal ini sudah terbukti tak hanya pada dengue namun juga chikungunya dan penyakit yang ditularkan nyamuk. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.