Berita Buleleng
Progres Shortcut Titik 7D dan 7E Capai 20 Persen, Ada Keluhan Jalan Licin Hingga Air Terjun Keruh
Progres Shortcut Titik 7D dan 7E Capai 20 Persen, Ada Keluhan Jalan Licin Hingga Air Terjun Keruh
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Progres pembangunan shortcut atau jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani titik 7D dan 7E di wilayah Banjar Dinas Wirabhuana, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng saat ini sudah mencapai 20 persen.
Pihak kontraktor dalam hal ini PT Sinar Bali dan Agung KSO optimis mega proyek senilai Rp 82 Miliar ini dapat diselesaikan tepat waktu hingga Juli 2024.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Provinsi Bali Yoni Sathia ditemui Kamis, 30 November 2023 mengatakan, wilayah Desa Gitgit saat ini kerap diguyur hujan.
Hal ini lantas membuat proses galian sedikit terganggu. Pihaknya harus menunggu hujan reda untuk melanjutkan pengerjaan.
Kendati demikian, dari segi progres pihaknya mampu mengerjakan proyek tersebut melebihi dari target, atau plus delapan persen.
"Untuk pengerjaan beton tidak ada masalah, di lokasi bisa dipasangi terpal. Kalau untuk galian memang kami tidak berani, lebih berisiko. Kalau hujan, harus tunggu reda dulu. Pengerjaan memang kami kebut, ditargetkan hingga akhir Desember progresnya sudah sampai 40 persen. Sehingga memasuki 2024 bisa santai," jelasnya.
Seperti diketahui pada titik 7D dan 7E akan dibangun jalan sepanjang 400 meter, dengan memangkas delapan tikungan menjadi empat tikungan.
Selain itu juga akan dibangun sebuah jembatan kurang lebih 155 meter, tepat di titik 7D.
Jalan yang dibangun juga akan fokus pada perbaikan geometrik agar tidak terlalu menanjak dan menurun.
Baca juga: Bawaslu Beri KPU Bali Waktu 3 Hari, Minta TPD Ganjar-Mahfud Bali Klarifikasi Soal Niluh Djelantik
Serta memperbaiki elevasi jalan yang sebelumnya berada pada kemiringan lebih dari 10 persen, akan dirancang menjadi di bawah 10 persen agar kendaraan besar mudah untuk bermanuver di tikungan.
Pada titik 7E Yoni menyebut pihaknya harus membuat tebing hingga setinggi 60 meter.
Untuk mencegah terjadinya longsor, pihaknya melakukan penguatan tebing dengan menggunakan metode soil nailing hingga di 340 titik, serta membut saluran air di lereng-lereng bukit.
"Tanah di wilayah itu memang agak humus, sehingga rawan longsor," ucapnya.
Yoni tidak menampik, pihaknya mulai menerima keluhan dari pengendara lantaran jalur Desa Gitgit saat ini licin akibat material shortcut.
Pihaknya pun mencoba menangani permasalahan ini dengan menyediakan dua unit water tanker.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.