Berita Buleleng
Sinda Sayangkan ada Joged Bumbung Erotis
Sinda Seorang Pelatih Joged Bumbung, Sayangkan ada Joged Bumbung Erotis
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Joged bumbung ditarikan secara tidak senonoh oleh seorang penari yang diduga berasal dari Lukluk Anggungan, Badung.
Hal ini pun sangat disayangkan oleh Pelatih Joged Bumbung asal Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng bernama Nyoman Sinda.
Dikonfirmasi melalui saluran telepon pada Minggu (17/3), Sinda mengaku telah melihat video joged bumbung yang ditarikan secara tidak senonoh itu di sosial media.
Penari itu tampak duduk di atas pangkuan seorang pria, hingga terlihat pakaian dalamnya.
Sinda pun sangat menyayangkan ulah penari itu, sebab dikhawatirkan dapat menimbulkan kesan buruk terhadap tarian asal Buleleng yang diperkirakan muncul pada 1940-an silam itu.
Dikatakan Sinda, dirinya saat ini memiliki tiga penari joged dilengkapi dengan sekaa.
Setiap pentas, penari tidak diizinkan melakukan hal-hal yang tidak senonoh bahkan menerima saweran.
"Kami pentas secara wajar, tidak ada kesan jaruh. Penari juga tidak boleh pentas sendiri, harus dengan sekaa untuk mempermudah pengawasan. Ini kesepakatan kami, karena sekitar empat atau tiga tahun yang lalu pernah diundang rapat oleh Polsek terkait maraknya Joged Bumbung jaruh," terangnya.
Sinda menyebut, Joged Bumbung jaruh ini biasanya muncul dari penari yang pentas secara mandiri tanpa didampingi sekaa.
Serta atas permintaan dari pihak yang mengundang.
Baca juga: Terlilit Tali Kapal, Jempol Kru Kapal di Klungkung Luka Parah
"Kadang penarinya diantar kok sama suaminya sendiri. Jadi jaruh karena ada permintaan dari yang mengundang, dikasih saweran juga. Kalau kami tidak menerima permintaan seperti itu," terangnya.
Pentas sesuai pakem ini diakui Sinda berdampak pada sepinya panggilan untuk pentas.
Saat ini pihaknya hanya pentas tiga sampai empat kali setiap bulan, di beberapa daerah seperti Karangasem, Buleleng dan Bangli.
Tiap pentas, biasanya pihaknya diberi upah Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta. Panggilan biasanya datang dari warga yang naur sesangi karena berhasil memiliki anak laki-laki.
"Tentu kalah dengan yang jaruh. Tapi kami tetap sesuai aturan, tidak boleh ada unsur erotisnya," tandasnya.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.