Berita Bali

Karya Maestro Made Wianta Dikoleksi Museum di Swiss, Dikerjakan Tahun 1990-an

Beberapa karya terbaik maestro Made Wianta dikoleksi Museum der Kulturen Basel, Swiss.

Istimewa
Maestro Made Wianta dan karyanya 

Karya Maestro Made Wianta Dikoleksi Museum di Swiss, Dikerjakan Tahun 1990-an


TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Beberapa karya terbaik maestro Made Wianta dikoleksi Museum der Kulturen Basel, Swiss.

Di mana karya tersebut dikerjakan di Basel Swiss pada periode 90-an.

Kabar ini pun mempunyai arti penting dalam sejarah perjalanan karier berkeseniannya. 

Baca juga: 5 Perupa Bali Pamerkan Karya Virual Bertajuk Prana, Pengakuan Seniman Akan Kekuatan Hidup

Wianta sebagai seniman kontemporer Indonesia walaupun telah tiada, seolah tak pernah berhenti terus mengukirkan namanya dalam kancah seni rupa dunia. 

Sebagai seniman modern Indonesia, Wianta telah menggarisbawahi komitmen salah satu museum terbaik di Swiss ini untuk mempromosikan keragaman budaya, dan inklusivitas dalam koleksinya melalui seni rupa. 

Baca juga: Seniman Made Djirna Letakkan Prasasti Seni Instalasi di Museum Arma Ubud

Dengan menambah koleksi karya dari seniman Wianta, tentu akan menambah daya tarik tersendiri bagi Museum der Kulturen Basel dalam menawarkan perspektif segar mengenai isu-isu kontemporer dunia yang berakar kuat dari keluhuran budaya timur, khususnya Bali.

Dengan dikoleksinya kembali karya Wianta oleh lembaga prestisius sekelas Museum der Kulturen Basel, dianggap akan semakin mengangkat profil sang seniman.

Baca juga: Pembangunan Museum Bom Bali,Anggaran Semula Rp 84,4 Miliar Ditetapkan Jadi Rp 1,4 Miliar

Pengakuan ini disampaikan oleh Yudha Bantono yang turut menjadi saksi pertemuan dengan Deputi Direktur Museum der Kulturen Basel pada akhir Maret baru-baru ini di Kota Basel. 

Menurut Yudha, dengan penambahan koleksi kembali karya Made Wianta oleh Museum der Kulturen Basel, dampaknya tidak hanya memvalidasi kembali visi artistik Wianta.

Baca juga: 60 Karya Seni Anak-Anak dari 10 Negara Dipamerkan di Museum Pasifika Bali

Tetapi juga membuka pintu bagi seniman-seniman baru lainnya dari berbagai latar belakang, untuk memamerkan karyanya di lembaga-lembaga seni dunia.

Pria yang sangat aktif mengadakan lawatan seni ke Eropa ini, pada kesempatan yang sama juga mengkuratori pameran Crossing Lines, yakni pameran bersama Made Wianta dan Stephan Spicher pada bulan Maret lalu di il Rivellino Leonardo Da Vinci Locarno Swiss.

Menurut Yudha, Wianta setidaknya telah mengadakan pameran beberapa kali di Museum der Kulturen Basel, yakni Catur Yuga (1999) dan Crossing Lines (2001), serta yang terbaru pameran bersama " Making The World - Lived Worlds" (2021), tentu ini menjadi bagian tersendiri kedekatannya dengan Museum der Kulturen Basel.

Baca juga: Konjen Australia Kolaborasi dengan Museum MACAN Hadirkan Pameran Unik di Cushcush Gallery Bali

“Ditambahkannya karya Made Wianta ke dalam koleksi Museum der Kulturen Basel, kemungkinan besar akan memicu dialog dan refleksi dalam pergerakan seni rupa di eropa”, kata Yudha dalam rilisnya, Minggu, 7 April 2024.

Gaya artistik Wianta yang unik dalam memadukan konsep dan pemikiran Bali sebagai bagian dari jati dirinya, kemudian dikembangkan dengan teknik abstraksi modern, dipandang oleh banyak pemirsa sebagai karya yang memiliki beragam penafsiran.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved