Berita Bali
Museum Arma Ubud Gelar Library Talk, Perbincangkan Pelukis Rudolf Bonnet Selama di Bali
Direktur Museum Arma, Anak Agung Gede Yudi mengungkapkan program Library Talk ini ingin mewujudkan laboratorium kreatif bagi anak-anak muda Bali.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat ini ketertarikan anak muda terhadap seni dan mengunjungi museum maupun galeri dianggap masih minim.
Sehingga Museum Arma Ubud menggelar diskusi dengan topik “Library Talk”.
Program perdana yang digagas oleh Anak Agung Gede Yudi menghadirkan narasumber budayawan sekaligus kritikus seni asal Prancis Dr. Jean Counteau dan Agung Rai pendiri Arma, serta peserta dari berbagai kalangan utamanya mahasiswa seni, budayawan, perupa bertempat di Warung Kopi Museum Arma.
Direktur Museum Arma, Anak Agung Gede Yudi mengungkapkan program Library Talk ini ingin mewujudkan laboratorium kreatif bagi anak-anak muda Bali.
Baca juga: Profil Made Wianta, Seniman Bali yang Karyanya Dikoleksi Museum der Kulturen Basel, Swiss
"Kita bisa mulai dari diskusi seni berdasarkan buku yang dipilih dari perpustakaan Arma. Di mana pembahasan buku juga akan dikaitkan dengan karya-karya maestro Bali yang dipasang di dalam Museum sebagai inspirasi dan bahan pembelajaran bagi generasi muda,” jelas Agung Yudi dalam rilisnya yang diterima Minggu, 21 April 2024.
Ia mengatakan, agenda Library Talk yang dihadiri para generasi muda akan menjadi stimulan bagi anak-anak muda agar mulai kembali mengunjungi ruang publik seni seperti gallery dan Museum.
"Harapanya anak-anak muda nantinya memiliki rasa kecintaan terhadap seni dan warisan budaya Indonesia yang adiluhung,” ucapnya.
Dalam bincang seni itu dipilih buku berjudul “Pioneers if Balinese Painting – The Rudolf Bonnet Collection" karya Helena Spanjard.
Buku ini merupakan koleksi Arma Museum, dimana isinya merangkum kisah perjalanan seniman Belanda Rudolf Bonnet (1895-1978) selama di Bali dan memuat koleksi karya seni yang dikumpulkan antara tahun 1929- 1978.
Ketika itu Bonnet bekerja dan tinggal di Ubud, sejumlah pelukis yang karya-karyanya dikoleksi oleh Bonnet saat itu antara lain, Ida Bagus Kembeng, Ida Bagus Muku, Ida Bagus Gerebuak, I Gusti Nyoman Lempad, AA Gede Sobrat, Ida Bagus Made, I Gusti Ketut Kobot, A.A Meregeg, I Dewa Nyoman Mura, I Ketut Ngendon, I Tomblos dan lain-lain.
Dalam pandanganya Agung Rai, lahirnya karya-karya Pengosekan, Padangtegal, sesungguhnya karya-karya yang berbeda, masing-masing memiliki keunggulan.
"Setelah Walter Spies, baru muncul Bonnet, yang mendorong perpaduan gaya lukisan secara teknik sehingga berkembang hingga kini, tetapi hadirnya orang-orang Barat tidak serta merta merubah lokalitas perupa Bali," ungkapnya.
Dalam penjelasan Jean Conteau budayawan asal Prancis dan menetap di Bali, menyebut keberadaan perupa barat di tahun 1920-an, telah memberi pengaruh kepada anak-anak pribumi.
Seperti hadirnya lembaga pendidikan atau sekolah.
"Saat itu mulai ada perubahan pola pikir orang Bali. Orang asing mengubah mentalitas orang pribumi, mulai diperkenalkan kertas, beragam warna cat, hingga kendaraan-kendaraan dan lainnya. Begitupun produk-produk orang Bali mulai dibeli orang asing,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Pelaksanaan-Library-Talk-di-Museum-Arma-Ubud.jpg)