Mahasiswa STIP Tewas
TRAGEDI Tewasnya Mahasiswa STIP di Jakarta, Ini Rekaman CCTV Kampus Usai Penganiayaan Putu Satria
Mendiang meninggal dunia, usai mengalami penganiayaan oleh rekan seniornya, dengan hantaman bertubi-tubi di ulu hatinya.
TRIBUN-BALI.COM - Tragedi yang menewaskan Putu Satria, mahasiswa STIP di Jakarta terus bergulir.
Mendiang meninggal dunia, usai mengalami penganiayaan oleh rekan seniornya, dengan hantaman bertubi-tubi di ulu hatinya.
Keluarga Putu Satria di Klungkung, Bali pun, tak kuasa menahan kesedihan atas kematian sang putra.
Bahkan sang ibu memeluk dan menangis di atas peti mati sang anak, saat jasadnya sampai di Bali.
Baca juga: TEWASNYA Putu Satria di STIP Jakarta, Anggota Dewan Asal Gunaksa Klungkung Akan Kawal Kasus Ini
Baca juga: STATUS WA Terakhir Korban & Firasat Perbekel Sebelum Tragedi Kebakaran Sesetan Tewaskan 1 Keluarga

Terungkap detik-detik rekaman CCTV yang memperlihatkan tubuh Putu Satria Ananta Rustika (19) tampak dibopong oleh beberapa taruna termasuk diduga tersangka Tegar Rafi Sanjaya.
Hal ini terjadi beberapa saat usai insiden penganiayaan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.
Berdasarkan rekaman video yang Tribunnews.com terima, terlihat tubuh Putu yang saat itu mengenakan baju olahraga STIP Jakarta warna oranye dibopong oleh lima orang taruna.
Terlihat empat dari lima orang taruna itu memakai pakaian dinas STIP berwarna coklat sedangkan satu lainnya mengenakan kemeja putih.
Dalam video itu juga terlihat kondisi Putu sudah tidak sadarkan diri pada saat dibopong oleh para taruna tersebut.
Sementara itu salah seorang taruna yang diduga merupakan Tegar Rafi terlihat membopong tubuh Putu Satria di bagian kepala.
Selain itu pada saat membopong tubuh Putu, kelima taruna tersebut juga seakan sambil memperhatikan kondisi sekitar.
Tampak situasi di sekitar pada saat itu terdapat beberapa taruna STIP lainnya, namun mereka terlihat hanya halu lalang begitu saja.
Adapun terkait hal ini sebelumnya polisi juga telah menerangkan mengenai kronologi sebelum, sesaat dan setelah insiden penganiayaan yang dialami oleh Putu Satria pada Jum'at (3/5/2024) pagi lalu.
Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara, AKBP Hady Saputra Siagian menjelaskan, saat itu, mahasiswa tingkat dua sedang ada kegiatan belajar mengajar.
Sedangkan, mahasiswa tingkat satu tengah berkegiatan olahraga.
Korban bersama keempat teman sejawatnya hendak menuju ke kamar asrama untuk memanggil rekan-rekannya yang tertinggal atau tidak mengikuti kegiatan olahraga.
Namun, saat hendak kembali untuk mengikuti kegiatan olahraga, korban bersama keempat rekannya bertemu dengan empat orang senior tingkat dua.
Para senior itu mengajak lima orang juniornya ke toilet lantaran melihat korban dan keempat temannya melakukan kesalahan lantaran mengenakan pakaian olahraga.
"Begitu turun, ketemu sama tingkat dua, mungkin ada yang salah, silihatnya menggunakan pakaian olahraga, dipanggil senior-seniornya itu," kata Hady, Sabtu (4/5/2024) lalu.
"Diajak (senior), 'ayo ikut saya'. Ketika bertemu antara taruna tingkat satu dengan taruna senior tingkat dua, melihat ada yang salah, (junior) suruh ikut ke kamar mandi," tambah Hady.
Selanjutnya, lima orang junior termasuk korban berada di dalam toilet bersama empat orang senior.
Saat itu, tersangka Tegar Rafi Sanjaya (21) sempat menyampaikan kalimat 'mana yang paling kuat?' kepada para juniornya.
Kemudian, korban yang merasa bahwa dia adalah ketua kelompok dari mahasiswa tingkat satu mengatakan, 'saya yang paling kuat'. Setelah itu penindakan dari senior terhadap juniornya terjadi.
"Penindakan yang dilakukan ini menggunakan kekerasan tangan kosong, tidak menggunakan alat apa-apa, jadi pemukulan menggunakan tangan kosong," kata Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, kepada wartawan, Sabtu malam.

Adapun tindakan kekerasan dilakukan secara eksesif dan berakibat fatal.
Sekira pukul 07.55 WIB, korban menjadi orang pertama yang mendapatkan pemukulan dari tersangka.
Gidion mengatakan, pemukulan di bagian ulu hati korban dilakukan sebanyak 5 kali. Hal tersebut berlangsung hingga korban pingsan dan terjatuh.
Karena panik, para senior alias mahasiswa tingkat dua STIP Jakarta itu meminta empat orang mahasiswa tingkat satu keluar dari toilet.
"Di kamar mandi itu ada 5 orang (junior), korban adalah yang mendapatkan pemukulan pertama dan yang empat (rekannya) belum sempat (ditindak senior)," ucapnya.
Mengetahui korban pingsan, tersangka bersama beberapa rekan satu tingkatnya panik dan membawa korban ke ruang kelas, yang berada di samping toilet tempat kejadian perkara (TKP).
Ia mengatakan, tersangka melakukan penyelamatan dengan memasukkan tangan di bagian mulut, sehingga mengakibatkan organ vital korban tidak mendapatkan asupan oksigen.
"Menurut tersangka nih ya, penyelamatan (dengan cara) memasukkan tangan di mulut untuk menarik lidahnya. Tapi itu justru yang menutup saluran (pernapasan), korban meninggal dunia," jelas Gidion.
Putu Satria
mahasiswa
STIP
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran
meninggal dunia
Jakarta
tewas
CCTV
penganiayaan
Klungkung
Bali
Fakta Baru Percakapan Putu Satria Sama Kekasih Via WA Beber Soal Ancaman dan Tradisi Baptis |
![]() |
---|
Beber Sang Ibu Soal Penganiaya Putu Satria yang Dari Bali: Inisial KA dan Sebut dari Jembrana |
![]() |
---|
1 Tersangka Penganiaya Putu Satria Disebut Berasal dari Bali, Rusmini Tak Mau Temui Keluarga Pelaku |
![]() |
---|
RUSMINI Tak Mau Temui Keluarga Pelaku! 1 Tersangka Penganiaya Putu Satria Disebut Berasal dari Bali |
![]() |
---|
NUNAS BAOS Keluarga Mendiang Putu Satria, Sebut Faktor Iri Hati, Sang Ibu Enggan Ketemu Tersangka |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.