Mahasiswa STIP Tewas
Tangis dan Kenangan: Kisah Putu Satria dan Tuntutan Keadilan dari Seorang Ibu
Duka mendalam bagi Ni Nengah Rusmini, ibu dari Putu Satria, seorang taruna STIP Jakarta, yang meninggal usai mengalami kekerasan fisik dari seniornya.
"Catatan ini baru saja saya baca. Saya dapat buku ini di kamar Rio. Saya berpikir, berarti apapun yang saya kasi tau, dijadikan motivasi oleh anak saya," ujarnya sembari terisak.
Rusmini kini menuntut keadilan dan berharap kasus ini diusut tuntas.
“Bapak presiden, bapak Kapolri, bapak Menteri Perhubungan, tolong bantu kami. Tolong usut kasus ini sampai tuntas, jangan sampai ada yang ditutup-tutupi. Kami keluarga menuntut keadilan,” katanya dengan penuh emosi.
Ia juga mengajak orangtua taruna lainnya untuk berani melaporkan kekerasan yang terjadi di STIP.
“Ibu-ibu taruna yang lain, ayo seperti janji kita saat bertemu di Jakarta. Katanya mau melapor dan siap buka-bukan. Jangan sampai ada seperti anak saya lagi, jangan lagi ada seorang ibu yang hatinya hancur karena kehilangan anaknya dengan cara seperti ini," ungkapnya.

Baca juga: LUKA di Jasad Putu Satria Tidak Wajar, Ibunda Minta Usut Tuntas, Tinggalkan Catatan Haru ke Adiknya
Baca juga: TERSANGKA Baru Kasus Penganiayaan Putu Satria, Mahasiswa STIP Jakarta, Diduga Lebih 1, Polisi Dalami
Ayahnya, I Ketut Suastika, mengungkapkan cita-cita mulia Putu Satria yang telah lama ingin bersekolah di sekolah kedinasan.
Ketut Suastika mengatakan bahwa sebagai orangtua, mereka mendukung keinginan tersebut karena Putu memiliki tekad yang kuat.
"Dia bilang ingin sekolah kedinasan, kami sebagai orangtua hanya mendukung. Apalagi ia memiliki tekad yang kuat," ungkap Ketut Suastika.
Putu Satria, yang memulai pendidikan di STIP pada September 2023, sering berkomunikasi dengan keluarganya selama beberapa bulan di kampus, khususnya dengan ibunya.
Ketut Suastika mengenang bahwa meskipun tidak sering berkomunikasi dengan dirinya, kondisi Putu selalu disampaikan sebagai baik.
"Biasanya lebih sering berkabar ke ibunya. Kalau dengan saya terakhir chat beberapa hari lalu, ini masih ada chatnya," kenang Suastika. "Saya sering tanya bagaimana keadaan di kampus, dia selalu bilang aman," tambahnya.
Ketut Suastika juga menggambarkan Putu Satria sebagai anak yang polos dan penyayang keluarga, serta cerdas dengan tekad yang kuat.
"Orangnya tidak neko-neko. Keluarga sangat terpukul dengan kejadian ini," ungkapnya.
Saat ini, keluarganya yang terdiri dari istri dan dua anaknya yang masih sekolah terbang ke Jakarta untuk mengurus keperluan mendiang Putu Satria.
Ia sendiri tidak bisa ke Jakarta karena menjaga keluarga yang sakit.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.