Tragedi di Jembatan Bangkung

SEDIH, Sebelum Ulah Pati di Jembatan Bangkung, Sutama Sempat Ngutang Bensin di Warung

Setelah kedua orang tua meninggal dunia, Sutama dan saudara-saudaranya menjadi yatim piatu. Otomatis ia sebagai kakak tertua menjadi tulang punggung.

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Ratu Ayu Astri Desiani/Tribun Bali
Foto semasa hidup Ketut Sutama (23) dan Putu Yasa Sari Dana (5). 

Berita atau artikel ini tidak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Pembaca yang merasakan tanda-tanda depresi dan memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit atau klinik yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa. Anda juga bisa simak hotline https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Tragedi ulah pati (bunuh diri) yang terjadi di Jembatan Tukad Bangkung, benar-benar menyayat hati. 

Bagaimana tidak, aksi nekat akhiri hidup ini dilakukan Sutama lantaran tak kuat dengan beban hidup yang dialaminya. 

Setelah kedua orang tua meninggal dunia, Sutama dan saudara-saudaranya menjadi yatim piatu. Otomatis ia sebagai kakak tertua menjadi tulang punggung.

Namun sayangnya, ia mengambil jalan ulah pati dan malah mengajak adik bungsunya melompat dari Jembatan Tukad Bangkung

Duka mendalam pun, dirasakan oleh keluarga Ketut Sutama (23) dan Putu Yasa Sari Dana (5) yang tewas ulah pati di Jembatan Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Senin (27/5/2024).

Pihak keluarga menduga Sutama, melakukan aksi nekat mengajak adik bungsunya untuk mengakhiri hidup, lantaran permasalahan ekonomi.

Baca juga: BEBAN Sutama Hingga Nekat Ulah Pati di Jembatan Bangkung, Jadi Tulang Punggung & Kesulitan Ekonomi

Baca juga: NEKAT Akhiri Hidup Terjun di Jembatan Bangkung, Pj Gubernur Bali Prihatin Minta Dinsos Fasilitasi

Setelah kedua orang tua meninggal dunia, Sutama dan saudara-saudaranya menjadi yatim piatu. Otomatis ia sebagai kakak tertua menjadi tulang punggung.

Namun sayangnya, ia mengambil jalan ulah pati dan malah mengajak adik bungsunya melompat dari Jembatan Tukad Bangkung. 
Setelah kedua orang tua meninggal dunia, Sutama dan saudara-saudaranya menjadi yatim piatu. Otomatis ia sebagai kakak tertua menjadi tulang punggung. Namun sayangnya, ia mengambil jalan ulah pati dan malah mengajak adik bungsunya melompat dari Jembatan Tukad Bangkung.  (ISTIMEWA)

 

Kakak ipar almarhum, Ni Luh Resmini (27) mengatakan, Sutama merupakan sosok yang pendiam.

Sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu di rumah sederhana, yang terletak di tengah perkebunan Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Ia merawat kakak sulungnya bernama Luh Somotini yang mengalami disabilitas fisik dan mental, serta adik bungsunya Putu Yasa yang mengalami gizi buruk.

Sejak ayah dan ibunya meninggal dunia, Sutama sempat bekerja di sebuah bengkel wilayah Kabupaten Badung selama empat bulan.

Namun ia kerap mengalami sakit, sehingga memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, mengurus kakak sulung dan adik bungsunya.

Resmini menyebut, sejak tinggal di kampung halaman Sutama jarang berinteraksi dengan keluarga besarnya, serta keluar rumah.

Untuk menghidupi kakak dan adiknya, Sutama membuka jasa memperbaiki barang-barang elektronik milik warga sekitar dengan harga seikhlasnya.

"Dia (Sutama) tidak pernah pasang tarif. Kalau ada yang membayar lebih, dikembalikan sama dia. Orang yang datang ke rumahnya, jadi barang-barang elektronik itu dia perbaiki di rumahnya. Dia jarang keluar rumah, kalau pun keluar paling hanya ke warung," jelas Resmini.

Sutama yang mulanya terkenal pendiam itu, kemudian tiba-tiba curhat kepada keluarga besarnya saat sehari sebelum ditemukan ulah pati.

Ia mengaku bingung dan capek. Resmini pun mengaku tidak menyangka jika akhirnya Sutama nekat mengajak adik bungsunya untuk mengakhiri hidup, dengan terjun dari Jembatan Bangkung.

"Mungkin dia merasa putus asa sejak orangtuanya meninggal dunia. Harus jadi tulang punggung untuk kakak dan adiknya. Tapi setahu kami, Sutama ini tidak pernah punya utang. Tidak mau meminjam uang sama keluarganya juga. Dia ingin mandiri," ungkap Resmini.

Ditambahkan Resmini, seluruh keluarga tidak tau saat Sutama pergi bersama adik bungsunya ke Desa Pelaga.

Namun berdasarkan penelusuran keluarga, sebelum berangkat ke Desa Pelaga tepatnya pada Minggu (26/5/2024) sekitar pukul 15.00 Wita, Sutama rupanya sempat berutang bensin di salah satu warung Banjar Dinas Rendetin.

"Ke pedagang bensin itu Sutama mengaku mau dulu pergi sebentar. Katanya nanti sore ada dah yang bayarin bensinnya," tutur Resmini lirih. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved