Sastra
KISAH Pilu Kekerasan Diangkat ke Dalam Novel, Tiga Setia Gara Harap Korban Berani Speak Up!
Kisah Tubi sebuah karya novel menceritakan tentang bagaimana kekerasan, menjadi sangat menakutkan saat orang terdekat yang seharusnya melindungi
TRIBUN-BALI.COM - Kisah Tubi sebuah karya novel menceritakan tentang bagaimana kekerasan, menjadi sangat menakutkan saat orang terdekat yang seharusnya melindungi malah melakukannya.
Ini adalah buku kedua karya Tiga Setia Gara, setelah sebelumnya ia merilis buku puisi dan menjadi karya pertamanya. "Tapi ini my first novel," sebutnya di Gramedia Denpasar, 27 Juli 2024.
Kasih Tubi, kata wanita kelahiran 1988 ini, menceritakan tentang 'monster' yang sesungguhnya adalah manusia itu sendiri. Tatkala manusia lupa akan kemanusiaan, dan melakukan kejahatan, kekerasan, yang bahkan tidak bisa diterima dengan akal sehat sekalipun.
Membuat sang korban merasa trauma, sendirian, menyalahkan dirinya, sementara ada beberapa momen sang korban harus dealing dengan sang 'monster' karena tiada lain mereka adalah orang dekat bahkan sedarah.
"Akan ada spirit yang dibahas di dalam buku ini," imbuh wanita yang juga vokalis band ini. Sekadar spoiler, novel Kasih Tubi mengisahkan seorang anak yang dirudapaksa oleh bapak dan pamannya. Usai ia ditinggal oleh ibunya.
Baca juga: Event Festival Jazz di Indonesia Banyak Namun Tak Bisa Akomodir Seluruh Musisi yang Ada
Baca juga: Merdeka Fest Siap Meriahkan HUT Kemerdekaan RI, Kunjungan ke GWK Rata-Rata 4 Ribu Orang Per Hari

Munculnya novel ini, kata dia, banyak disangka true story. "Aku gak bisa jawab, ini kisah nyata atau bagaimana. Aku akan membiarkan semua pembaca menginterpretasikan dan mengimajinasikannya sendiri," sebutnya sembari mengajak pembaca untuk mendalami karyanya ini.
Proses produksi berjalan cukup lama, karena Tiga Setia Gara harus mempersiapkan secara mental selama 5-6 tahun. Kemudian serius menulisnya non stop selama 8 bulan. "Termasuk proses editingnya. Waktu aku nulis di USA (Amerika Serikat)," sebutnya.
Ia mempersiapkan mental, mengingat karya novel ini bukan seperti kisah pada umumnya, namun mengangkat sisi gelap kehidupan manusia. Ia juga harus memikirkan bagaimana karya ini bisa diterima oleh khalayak umum khususnya di Indonesia.
"Gramedia kini bantu aku sebagai vendor," katanya. Bertahun-tahun ia mengaku tidak percaya diri, apakah buku ini akan diterima atau tidak. Apalagi di dalamnya juga menceritakan tentang oknum dan kelamnya hukum serta penegaknya.
"Aku saja sampai beberapa kali beda pendapat sama editor, karena ada banyak hal yang harus dihaluskan khususnya untuk masuk ke Indonesia," imbuhnya.

Pengalaman yang ia dapatkan sehingga mampu menulis novel ini, ia lihat secara langsung dari kehidupan di dunia nyata. Tidak hanya Indonesia, namun di Amerika Serikat pun ia melihat masih banyak korban yang enggan berbicara.
Ia menjelaskan, bahwa dengan korban berani speak maka penjahat akan diberikan hukum setimpal. Ini juga berkaitan dengan mengurangi korban-korban lainnya. Termasuk merilis perasaan amarah dan kesedihan dari si korban.
Apalagi ada beberapa orang dari temannya teman, kata dia, malah memilih mengakhiri hidup karena saking depresinya. Tidak tahu apa yang harus dilakukan dan merasa malu.
"Di sini perlunya jangan judge mental, karena kita gak tahu beban mereka kayak apa," imbuhnya. Untuk para korban lah, novel ini hadir sehingga semua berani berbicara.
Tiga Setia Gara juga menyesuaikan dengan pembaca di Indonesia, dan ia menurunkan egonya saat proses editing. Ia melihat semua hal harus sinkronisasi, sehingga tujuan bisa tercapai. Apalagi harapan hadirnya novel ini memang untuk kebaikan.
Ia berharap siapapun itu baik pria dan wanita, agar berani speak up ke depannya. Memberikan peluang pada kebaikan melawan kejahatan manusia, tidak perlu malu atau takut. (*)
Jawaban Uji Kompetensi Bab 1, Kunci Jawaban Matematika Kelas 5 Halaman 27 28 Kurikulum Merdeka |
![]() |
---|
UPAYA PHDI Denpasar Ringankan Beban Umat, Gelar Upacara Menek Kelih Hingga Metatah Massal |
![]() |
---|
Langsung Gencarkan GPM dan OPM, Upaya Badung Atasi Kelangkaan LPG 3 Kg dan Sembako |
![]() |
---|
CEO Tribun Network, Dahlan Dahi, Dinobatkan Jadi Tokoh Media Berpengaruh oleh MAW Talk Award |
![]() |
---|
3 Korban Terseret Arus di Pantai Mengening Badung Belum Ditemukan, Tim SAR Baru Temukan 3 HP Korban |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.