Berita Buleleng

Harga Cabai Tembus 50 Ribu, Satgas Pangan Buleleng Perketat Pemantauan Komoditas Pemicu Inflasi

saat ini hanya 20 hektare yang ditanami, karena faktor produksi tanaman yang tidak maksimal disebabkan oleh berkurangnya kesuburan tanah

istimewa
Satgas Pangan Buleleng saat mengunjungi sentra produksi cabai di wilayah Kecamatan Gerokgak - Harga Cabai Tembus 50 Ribu, Satgas Pangan Buleleng Perketat Pemantauan Komoditas Pemicu Inflasi 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Komoditas cabai rawit dinilai kerap menyebabkan inflasi karena harganya yang fluktuatif.

Mengantisipasi hal tersebut, Satgas Pangan Kabupaten Buleleng meninjau langsung sentra produksi cabai rawit yang ada di wilayah Kecamatan Grokgak, Bali.

Dipimpin oleh Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, drh. I Wayan Susila mengungkapkan, fluktuasi harga cabai di Buleleng mengikuti harga cabai di Pulau Jawa.

Diakui akibat kekeringan di Pulau Jawa berdampak pada harga cabai rawit yang semakin tinggi.

"Hal ini mempengaruhi juga harga cabai rawit di Buleleng yang ikut tinggi. Walaupun sebenarnya produksi cabai rawit di Buleleng tergolong mencukupi," ungkapnya, Rabu 31 Juli 2024.

Baca juga: Distan Bali Ungkap Harga Cabai Naik Sebab Pemerintah Fokus Tingkatkan Produksi Beras

Dikatakan, harga cabai rawit saat ini di kalangan petani berada di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 55 ribu per kilo. Sedangkan produksinya relatif ada penurunan.

Seperti di Kelompok Tani Unggul Mulya Desa Pemuteran, di mana panen normalnya mencapai 8 kwintal/hari, namun untuk saat ini hanya 3-4 kwintal/hari.

"Sedangkan di Kelompok Tani Harapan Baru, di mana menanam 1 hektar cabe rawit dengan usia tanaman 3,5 bulan dan sudah mulai panen petik pertama, yang diperkirakan dapat panen sampai 4 bulan ke depan," ungkapnya.

Pihaknya juga berkunjung ke Desa Pemuteran, Pejarakan dan Sumberklampok yang memiliki potensi luas tanam mencapai 540 hektare.

Namun untuk saat ini hanya 20 hektare yang ditanami, karena faktor produksi tanaman yang tidak maksimal disebabkan oleh berkurangnya kesuburan tanah, dan tidak ada pergiliran varietas.

"Mengenai hal ini, kami terus pantau perkembangan harga dan stok komoditas pemicu inflasi di Buleleng, contohnya peninjauan yang kami lakukan saat ini. Tentu harapannya agar rantai pasok dapat diperpendek sehingga kestabilan harga dapat tetap terjaga," tandasnya. (mer)

Kumpulan Artikel Buleleng

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved