Berita Bali
Kurang Progresif, Koster Sentil Kadistan Bali: Hati-Hati Kita Bisa Kesulitan Pangan
lahan pangan akan tergerus terus menerus, tidak sampai 100 tahun, Bali dinilai akan menghadapi ancaman ketersediaan pangan.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Gubernur Bali sentil Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada.
Menurut Koster, sebetulnya produktivitas pertanian untuk kebutuhan pangan di Bali masih bisa ditingkatkan, hanya saja Kadis ini bekerjanya kurang progresif.
“Pangan di Bali ini sudah saya petakan untuk 9 kebutuhan dasar hidup itu cukup. Bahkan produktivitasnya masih bisa ditingkatkan. Cuma Kadis Pertaniannya kurang progresif,” jelas Koster pada Pembukaan Musrenbang RKPD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2026 di Wiswa Sabha Utama pada Selasa 15 April 2025.
Lebih lanjutnya ia mengatakan, sebetulnya peningkatan produktivitas pangan bisa saja dilakukan misalnya pada satu hektare sawah yang tadinya hanya dua kali panen dapat ditingkatkan menjadi tiga kali panen.
Baca juga: Ratusan Warga Banjar Belong Menak Denpasar Bali Antusias Ikuti Sosialisasi Obat dan Pangan Aman
Tentunya harus dibarengi dengan inovasi, dan lahan kering seharusnya dapat dijadikan sebagai lahan pertanian modern.
“Itu sekarang banyak metodenya yang sangat berhasil, tidak lagi pertanian konvensional, tapi pertanian berbasis teknologi. Kalau perlu belajar ke Israel yang luar biasa. Tidak punya lahan subur, tidak ada air, tapi pertaniannya sangat maju. Karena teknologinya sangat maju. Embun diolah jadi air tanaman. Belajar gitu, jangan gitu-gitu saja, gak akan maju,” imbuhnya.
Namun meskipun tidak ada peningkatan produktivitas lahan pangan, kebutuhan produktivitas di Bali terhadap warganya 4,4 juta atau masih surplus.
Jumlah beras di Bali masih surplus 53 ribu ton tahun 2024.
Di periode pertama saat Koster menjabat, katanya surplus beras masih pada angka 100 ribu ton lebih.
Namun saat ini tersisa 53 ribu ton atau menurun setengahnya.
“Kalau ini tidak ditangani dengan baik, hati-hati kita bisa kesulitan pangan di Bali. Karena luasan sawahnya menurun terus. Ribuan hektare per tahun lahan produktif itu berkurang karena eksploitasi lahan terlalu tinggi dalam pembangunan fasilitas pariwisata maupun fasilitas lainnya,” bebernya.
Kalau ini tidak dikendalikan, maka lahan pangan akan tergerus terus menerus, tidak sampai 100 tahun, Bali dinilai akan menghadapi ancaman ketersediaan pangan.
Dalam skala wilayah Bali, Koster menghitung sumber pangan di Bali cukup. Hanya bawang putih saja yang defisit, di luar itu Bali surplus.
“Dan surplusnya kalau kita tingkatkan produktivitasnya dengan pertanian modern teknologi kombinasikan, itu produsen bisa meningkat lagi. Bawang putih ini saya sudah minta segera buka lahan untuk menanam bawang putih. Berapa ribu hektare butuhnya, tanam supaya tidak defisit lagi. Ternyata kenapa bawang putihnya impor, karena petaninya nggak mau menanam, karena harga bawang putih Bali lebih tinggi, DRPD impor,” tutupnya.
Kumpulan Artikel Bali
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.