Berita Karangasem
Cerita Ojek di Besakih, Antrean Mengular, Rela Menanti Berjam-jam Demi Penumpang
Cerita Ojek di Besakih, Antrean Mengular, Rela Menanti Berjam-jam Demi Penumpang
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Matahari baru saja terbit di kawasan Pura Agung Besakih, Rabu (26/4/2025).
Namun antrean ojek sudah mengular di jalur Manik Mas.
Mereka saling bersahutan, menawarkan jasa ojek ke setiap pemedek yamg hendak bersembahyang ke Pura Agung Besakih.
Baca juga: TERBARU! 1 Pelaku Pengeroyokan Pecalang di Besakih, Sepak Terjangnya Diungkap Polisi
Di balik suara yang bersahutan itu, ada ratusan pengojek yang menanti rejeki, mereka berharap ada penumpang yang bersedia diantar sejauh satu kilometer menuju pelataran pura.
Antrean ojek ini, ternyata telah mengular sejak pukul 05.00 Wita. Para pengojek yang kebanyakan warga lokal Besakih, rela datang pagi-pagi untuk mendapatkan antrean paling depan.
Mereka rela mengantri sampai 1 hingga 2 jam, untuk mendapatlan giliran mengantar penumpang.
Baca juga: Kapolres Karangasem: Tak Ada Keterlibatan Anggota Polisi di Kasus Pemukulan Pecalang di Pura Besakih
Seperti yang diungkapkan Nengah Miwa. Ia rela bangun pagi sejak Pukul 05.00 Wita, demi mendapat antrean ngojek. Hingga Pukul 10.00 Wita, ia mengaku telah mengatar dua orang pemedek ke Pura Penataran Agung Besakih.
Sekali mengantar penumpang, tarifnya sudah ditentukan yakni Rp10 ribu sekali jalan. Meskipun antre panjang, salam sehari Nengah Miwa mengaku bisa 20 kali mengantar penumpang bolak-balik.
"Kalau ramai bisa sampai dua puluh kali bolak-balik, tapi tergantung juga. Kadang cuma sepuluh atau malah kurang,” ujar Miwa.
Weekend biasanya hari yang ditunggu oleh para pengojek. Karena saat itu pemedek yang bersembahyang ke Pura Besakih serangkaian upacara IBTK (Ida Bhatara Turun Kabeh) biasanya akan membludak.
Tahun ini, ojek-ojek sudah ditata oleh Badan Pengelola. Sehingga antrean dapat lebih rapi, tarif pun ikut ditentukan.
"Sekarang sudah ditata oleh Badan Pengelola, jadi antreannya juga rapi. Tapi karena banyaknya ojek dalam sehari paling mentok dapat Rp 200 ribu saja,” ungkap Miwa.
Namun tidak semua pemedek memilih naik ojek. Banyak juga yang memilih berjalan kaki, terutama anak-anak muda atau mereka yang merasa kuat.
Tapi bagi sebagian besar, seperti Ni Wayan Suniasih, kenyamanan dan kepraktisan jadi pilihan utama.
“Banten yang saya bawa lumayan berat, jadi naik ojek lebih cepat dan nggak capek,” tuturnya.
Untuk menghindari kemacetan, jalur antara ojek dan pejalan kaki pun dipisah. Ojek wajib melewati jalur belakang, sementara jalur utama hanya diperuntukkan bagi mereka yang berjalan kaki.
Sistem ini sementara terbukti efektif menjaga kelancaran, mengingat padatnya arus lalu lintas dan pemedek selama upacara IBTK yang digelar hingga 3 Mei 2024. (mit)
Warga Karangasem Panik Sepeda Motor Vario Miliknya Dimaling, Pelaku Ternyata Kerabat Korban |
![]() |
---|
CAMPAK Infeksi 33 Anak di Karangasem, 2 Wilayah Masuk KLB, Kemenkes Catat 46 Wilayah di Indonesia |
![]() |
---|
CAMPAK Infeksi 33 Anak di Karangasem, 2 Wilayah Masuk KLB, Simak Berita Berikut Ini |
![]() |
---|
KLB Campak di Karangasem, Berikut Gejala dan Komplikasi Mematikan |
![]() |
---|
Kegiatan Bakti Indonesia 2025 di Karangasem Bali, Soroti Kasus Kanker Payudara dan Penyakit Jantung |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.