Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Badung

Kiriman Sampah Pantai Mulai Reda, DLHK Badung Bersihkan 3.000 Ton Selama 4 Bulan

Kiriman Sampah Pantai Mulai Reda, DLHK Badung Bersihkan 3.000 Ton Selama 4 Bulan

Tayang:
Tribun Bali/ISTIMEWA
BERSIHKAN SAMPAH - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Badung saat melakukan pembersihan sampah pantai beberapa waktu lalu 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA -  Sampah kiriman dipesisir pantai di Badung mulai sedikit mereda. Kendati demikian selama hampir empat bulan tim Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mencatat sampah kiriman yang telah dibersihkan di sepanjang pesisir Kabupaten Badung mencapai 3.000 ton.

Penurunan sampah yang yerjadi  diperkirakan lanraran musim angin muson barat akan segera berakhir. Namun DLHK Badung masih tetap siaga mengantisipasi sampah yang terdampar di sejumlah pantai di Badung.

Kabid Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem mengatakan, selama hampir empat bulan terakhir telah mengumpulkan sampah 3.000 ton dari pinggir pantai. Sampah yang dibersihkan ini berupa batang kayu, plastik, dan lainnya.

Baca juga: Cuaca Ekstrem di Gianyar, Waspada Ular Masuk Rumah

"Laut sudah mulai bersahabat. Volume sampah yang dibersihkan mencapai 3.000 ton," ujar Gung Dalem, saat dikonfrimasi Kamis 29 Februari 2026.

Pihaknya menyebutkan, ribuan ton sampah kiriman ini dibersihkan di Pantai Petitenget hingga Pantai Jimbaran. Dari luasnya cakupan wilayah, dirinya pun membagi 10 zona tim yang bertugas di lapangan. Meski demikian, petugas di lapangan masih bersiaga untuk melakukan pembersihan.

Baca juga: Puasa Tak Hanya Menahan Lapar, 8 Anggota Tubuh Ini Juga Harus Dijaga

"Ada 10 zona sampah kiriman menepi, mulai dari Pantai Petitenget sampai Jimbaran,” ungkapnya.


Berkurangnya sampah yang menepi, Gung Dalem memperkirakan lantaran telah memasuki akhir musim angin muson barat. Sebelumnya  dia menyatakan, dalam penanganan sampah kiriman DLHK Badung mengerahkan 12 unit alat berat di pantai-pantai strategis. Hal ini guna mempercepat proses pengumpulan dan pengangkutan sampah. Selain itu, sekitar 300–350 tenaga penyapuan dikerahkan secara rutin, dan dapat ditambah hingga 800 personel apabila kondisi semakin berat.


“Begitu sampah terdampar, langsung kita kumpulkan dan angkut keluar dari pantai. Fokus kami agar timbunan tidak menumpuk dan mengganggu aktivitas pariwisata,” paparnya. 


Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, komposisi sampah kiriman yang menepi didominasi material organik berupa kayu sekitar 70 persen, sedangkan 30 persen lainnya merupakan sampah plastik. 


Sampah plastik bernilai dipilah dan disalurkan ke mitra pengolah, sementara plastik campuran dibawa ke TPA. Sedangkan kayu gelondongan dipotong dan digerus menggunakan mesin wood chipper untuk dijadikan serbuk yang dapat dimanfaatkan sebagai kompos atau urugan. (*)

 

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved