Berita Bali
Perubahan Perilaku Wisatawan, Perlu Transformasi Padukan Teknologi dan Budaya Lokal Bali
Transformasi digital dianggap penting karena perilaku wisatawan yang saat ini sudah berubah.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali menjadi titik awal diskusi tentang tren pariwisata, transformasi AI (Artificial Intelligence), serta peluang menghubungkan budaya lokal dengan teknologi untuk pelaku hotel, restoran, kafe, dan retail.
Diskusi ini membahas mengenai bagaimana sektor pariwisata dan hospitality Indonesia dapat bertumbuh melalui transformasi digital.
Dengan fokus menggabungkan kekuatan antara teknologi dan budaya lokal Bali, sehingga pengalaman wisatawan bisa semakin personal, relevan, dan memiliki kemampuan daya saing global.
Dinas Pariwisata Bali menggaungkan tren pariwisata yang menonjol saat ini adalah wellness tourism dan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions) dengan arah pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
Baca juga: Perlu Verifikasi, Peran Jurnalis Tak Dapat Digantikan AI
Wellness tourism tumbuh dari akar budaya Bali yang kaya akan tradisi spiritual, yoga, serta pengobatan herbal, sedangkan MICE tourism menempatkan Bali sebagai panggung internasional untuk pertemuan bisnis yang dibalut dengan nuansa budaya khas Bali.
“Perlunya kolaborasi dari masyarakat, pemerintah, swasta, akademisi, hingga wisatawan untuk mendorong pariwisata Bali yang lebih maju secara digital,” ujar Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini, di Denpasar, pada Jumat 3 Oktober 2025.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Bali, A.A Wira Y Pramana, menyatakan pentingnya digitalisasi UMKM agar dapat mengelola inventaris, keuangan, dan market layaknya enterprise.
“Bali lebih dari sekadar tourism, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak, sebagai upaya kolektif untuk membangun ketahanan ekonomi," kata dia.
"Menciptakan peluang baru melalui industri hijau, kreatif, dan berbasis teknologi, serta memastikan kemakmuran yang merata bagi seluruh masyarakat Bali,” sambung Wira.
Transformasi digital dianggap penting karena perilaku wisatawan yang saat ini sudah berubah.
Mereka mencari serta menemukan inspirasi destinasi lewat media sosial, menghubungi bisnis melalui pesan instan, dan menilai pengalaman melalui ulasan online.
Hal ini mencerminkan bagaimana teknologi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan dasar agar bisnis tetap relevan.
Dalam konteks ini, conversational AI menjadi jawaban teknologi yang memungkinkan hotel, restoran, dan kafe di Bali untuk melayani tamu secara instan, sekaligus menjadi “pemandu budaya digital”.
Misalnya, membantu wisatawan menemukan hidden gem kuliner, merekomendasikan pertunjukan tari tradisional, atau memberi informasi jadwal upacara adat yang relevan sesuai dengan minat mereka.
AI tidak menggantikan sentuhan manusia, melainkan memperkuat kemampuan pelaku usaha untuk menghadirkan pengalaman Bali yang autentik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Para-pemangku-kepentingan-menggelar-diskusi-tren-pariwisata-di-Bali-menyikapi-perubahan.jpg)