Gempa di Bali
Waspada, Bali Diguncang Gempa Swarm 12 Kali dalam Dua Hari, Pertanda Akan Gempa Besar?
Wilayah Bali diguncang rentetan gempa bumi yang cukup intensif sejak Rabu 26 November 2025
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI. COM, DENPASAR - Wilayah Bali diguncang rentetan gempa bumi yang cukup intensif sejak Rabu 26 November 2025 hingga Kamis 27 November 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 12 kali kejadian gempa dengan magnitudo bervariasi antara 1.8 hingga 4.1 dengan kedalaman dangkal hanya 8 km hingga 19 km.
Menurut analisis BMKG, 12 rentetan gempa ini terpusat 10 kali di wilayah Buleleng dan 2 Kuta Selatan, Bali.
Baca juga: HEBOH Isu Potensi Gempa Megathrust Terjang Bali, BPBD Gianyar: Jangan Mudah Percaya
Ketua Kelompok Kerja Info Dini Gempabumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III, Dwi Hartanto, SSi., MDM, membenarkan adanya peningkatan aktivitas seismik ini.
Ia menjelaskan bahwa 12 gempa tersebut memiliki lokasi episenter di darat dengan kedalaman hiposenter yang dangkal.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif,” ujar Dwi Hartanto kepada Tribun Bali.
Baca juga: BMKG Pilih Sanur Kauh sebagai Kegiatan SLG, Berpotensi Tinggi Terjadi Gempa dan Tsunami
Dwi Hartanto menyebut fenomena rentetan gempa kecil seperti ini sebagai Gempa Swarm.
Gempa-gempa ini, lanjutnya, adalah fenomena tektonik atau non vulkanik, artinya tidak ada kaitan dengan aktivitas gunung berapi di Bali.
"Kalau renteten gempa kecil biasanya kita sebut gempa swarm, biasanya memang sering terjadi di suatu daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kejadian gempa swarm bukanlah hal baru di Bali, sebelumnya gempa swarm yang pernah terjadi di Tejakula pada tahun 2017.
Terkait kekhawatiran masyarakat akan potensi gempa besar yang mengikuti, Dwi Hartanto tidak menampik kemungkinan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa gempa kecil sebelum gempa besar disebut sebagai foreshock.
"Bisa juga, gempa kecil sebelum gempa besar namanya foreshock, cuma kami tidak bisa memastikan apakah gempa tersebut foreshock atau bukan,” tegasnya.
Menyikapi rentetan gempa swarm ini, Dwi Hartanto mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi isu atau berita bohong (hoax) mengenai prediksi gempa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/GEMPA-Terkini-Bali-Pusat-Gempa-di-Barat-Daya-Kuta-Selatan.jpg)