Berita Bali
Diprotes Pemilik Warung Jatiluwih Seusai Sidak, Ini Jawaban Pansus TRAP DPRD Bali
Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) menanggapi protes pemilik warung di Jatiluwih
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) menanggapi protes pemilik warung di Jatiluwih yang sempat disidak oleh Pansus TRAP beberapa waktu lalu.
Ketua Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) I Made Supartha mengatakan kawasan Jatiluwih, yang sejak 2012 diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia dan kembali menguatkan reputasinya dengan predikat Desa Terbaik Dunia versi UN Tourism tahun 2024.
Baca juga: PEMILIK Warung Minta Keadilan, Usai Sidak Pansus TRAP Pertanyakan Masterplan DTW Jatiluwih Tabanan!
“Kini menjadi fokus utama pengawasan Panitia Khusus Tata Ruang dan Aset Pemerintah (Pansus TRAP) DPRD Bali."
"Pengawasan ini dilakukan menyikapi mulai menyempitnya lahan sawah akibat alih fungsi menjadi bangunan beton kondisi yang dinilai mengancam identitas budaya Bali serta citra Jatiluwih sebagai destinasi sawah terindah yang dicari wisatawan mancanegara,” jelas, Supartha pada, Jumat 5 Desember 2025.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pansus TRAP DPRD Bali kehadirannya bukan untuk menghambat pembangunan, tetapi untuk memastikan penataan ruang berjalan benar, menjaga warisan budaya, dan membangun ekonomi rakyat tanpa merusak alam.
Baca juga: TARGET Kunjungan Hingga 7.000 Wisatawan, Jatiluwih Festival VI Suguhkan Booth UMKM & Atraksi Budaya
“Wisatawan datang untuk melihat hamparan sawah, subak, dan budaya Bali. Bukan beton. Pansus hadir agar masyarakat mendapat manfaat ekonomi yang lebih besar dan bangga terhadap desanya, bukan hanya jadi penonton,” bebernya.
Langkah pengawasan ini juga selaras dengan program Gubernur Bali yang menekankan kemajuan desa sebagai pusat pertumbuhan, termasuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mencetak generasi unggul melalui program Satu Keluarga Satu Sarjana.
Pansus TRAP DPRD Bali menyebut bahwa Jatiluwih memiliki potensi budaya dan alam yang luar biasa, sehingga harus dijaga dan dikembangkan dengan pendekatan yang menyeimbangkan pelestarian dan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: Pansus TRAP DPRD Bali Sidak ke DTW Jatiluwih Tabanan, 13 Bangunan Melanggar Terancam Dibongkar
Untuk memperkuat manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, sebagai desa wisata berkelas dunia, Pansus TRAP DPRD Bali mendorong rencana pengembangan desa berbasis budaya.
Dalam konsep yang telah disiapkan rumah-rumah penduduk akan ditata dan diarahkan menjadi homestay berstandar internasional.
Didesain pula restoran khas desa yang menampilkan kuliner lokal yang higienis bagi tamu yang berkunjung.
Warga akan dilibatkan penuh dalam pengelolaan wisata, sehingga pendapatan tidak lagi didominasi pihak luar/kelompok pemodal tertentu.
“Bahkan untuk tambahan pendapatan masyarakat petani di buatkan paket di sawah di antaranya manyi, metekap, nandur, mandi lumpur, tangkap belut, tracking di sawah dan pikinik di tengah sawah di kubu kandang sapi,” bebernya.
Pemanfaatan ruang di wilayah ruang pertanian organik Jatiluwih oleh para petani dalam bentuk usaha kecil, di jalur persawahan yang memberikan udara segar kepada wisatawan dapat dibuatkan trek kunjungan, couching klinik tentang pengelolaan sawah atau membajak sawah dengan sapi-panen massal dengan cara spingan sampai pengolahan kuliner yang khas dengan masakan Bali seperti lawar lindung, klipes goreng, pepes jubel, blauk, dan sebagainya di gubuk petani sebagai tempat peristirahatan petani setelah selesai melakukan kegiatan/pekerjaan di sawah.
Gubuk itu dapat dikelola oleh petani untuk meningkatkan kesejahteraan petani dari kunjungan wisatawan. (*)
Berita lainnya di DTW Jatiluwih
“Dengan model ini, ekonomi naik, budaya Bali tetap terjaga, dan desa wisata jati luwih tidak kehilangan identitasnya,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Pengunjung-sedang-melakukan-kegiatan-di-DTW-Jatiluwih-123.jpg)