Hujan Deras di Bali
KOSTER Beberkan Sebab Banjir di Pancasari Buleleng, Singgung Curah Hujan Meningkat!
Koster menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi, memang berpotensi menimbulkan banjir, namun sejauh ini masih dapat dikelola dengan baik.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Kawasan Pancasari Buleleng menjadi salah satu kawasan langganan banjir, setiap musim hujan tiba.
Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan peristiwa banjir disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi dan tercatat sebagai yang tertinggi dalam puluhan tahun terakhir.
Koster menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi, memang berpotensi menimbulkan banjir, namun sejauh ini masih dapat dikelola dengan baik.
“Namanya hujan gede ya banjir-banjir dikit. Ya, tapi kan sudah dikelola dengan baik,” katanya usai Rapat Paripurna DPRD Bali, Rabu 14 Januari 2026.
Baca juga: BREAKING NEWS: Penutupan TPA Suwung Bali Diundur Jadi November, Tak Memungkinkan Dibawa ke Bangli
Baca juga: Enam Desa di Jembrana Lakukan Lockdown, Dampak Sapi Terjangkit Penyakit LSD
Ia menegaskan bahwa curah hujan yang terjadi sejak akhir 2025, jauh melampaui kondisi normal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Curah hujan tahun ini mulai 2025 akhir itu, memang jauh lebih tinggi daripada curah hujan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan 70 tahun sebelumnya gitu,” imbuhnya.
Koster mencontohkan, banjir yang sempat terjadi di kawasan Tukad Badung, tepatnya di sekitar Pasar Badung dan Pasar Kumbasari, yang dipicu oleh curah hujan ekstrem.
“Ketika banjir di Tukad Badung yang Pasar Badung, Pasar Kumbasari gitu kan karena itu kan memang tertinggi 390 mili. Yang sebelumnya adalah biasanya 100 di bawah 100 mili bahkan,” jelasnya.
Menurut Koster, angka tersebut merupakan rekor curah hujan tertinggi yang pernah tercatat dalam kurun waktu 70 tahun terakhir.
“Nah, ini curah hujan yang tertinggi yang pernah dicapai dalam 70 tahun terakhir menurut catatan. Mungkin sebelum itu juga enggak pernah ada gitu,” ucapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut dipengaruhi siklus cuaca panjang dan pergerakan gelombang siklon yang sempat melintasi wilayah tersebut.
“Ini siklus panjang ada gelombang siklon yang bergerak waktu itu ya,” ungkapnya. Meski demikian, Koster memastikan kondisi cuaca di Bali saat ini mulai membaik dibandingkan puncak hujan yang terjadi pada September 2025.
“Tapi sekarang untuk Bali sudah menurun karena kejadiannya kan sudah September 2025. Jadi sekarang curah hujannya tinggi tapi tidak setinggi waktu 10 September 2025. Ada banjir-banjir kecil-kecil,” katanya.
Menjawab kekhawatiran terkait dampak banjir, terhadap proyek shortcut di kawasan tersebut, Koster menegaskan bahwa infrastruktur tersebut tidak terdampak.
“Oh, enggak, enggak kena. Shortcut-nya enggak,” tegasnya. Ia juga memastikan, bahwa warga terdampak telah dievakuasi dan penanganan dilakukan secara terpadu oleh pemerintah.
“Warga sudah dievakuasi, sudah ditanganin bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Buleleng,” ujarnya.
Terkait potensi banjir di area pembangunan shortcut, Koster menyatakan hingga kini belum ditemukan adanya gangguan. “Ndak, sejauh ini belum ada,” tutupnya. (*)
| HUJAN Lebat & Angin Kencang Harus Diwaspadai, Monsun Asia Menguat, Bali Masuk Pulau Terdampak! |
|
|---|
| HUJAN Lebat & Banjir Landa Gianyar, Pura di Bedulu Tersambar Petir, Ada Beberapa Kendaraan Mogok! |
|
|---|
| WASPADA Bibit Siklon Tropis 935, BMKG: Potensi Hujan Sedang Hingga Lebat Beberapa Hari ke Depan! |
|
|---|
| AIR di Pura Tirta Empul Keruh, Sebab Sungai Sekitarnya Sempat Meluap, Kadispar Gianyar: Sudah Normal |
|
|---|
| Dahan Pohon Beringin Timpa Penyengker Pura di Gianyar, Dampak Hujan Lebat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pengunduran-penutupan-TPA-Suwung-Denpasar-menjadi-November-2026.jpg)