Longsor di Bali
1 TEWAS 2 Selamat, 3 Tertimbun Longsor di Tegenungan, 14 Warga Terdampak Senderan Jebol di Denpasar!
Hujan deras kembali mengguyur Bali dan sekitarnya, Kamis (12/2). Akibatnya, dilaporkan sejumlah kejadian bencana alam
TRIBUN-BALI.COM – Hujan deras kembali mengguyur Bali dan sekitarnya, Kamis (12/2). Akibatnya, dilaporkan sejumlah kejadian bencana alam yang mulai terjadi pada 08.00 hingga 15.30 Wita.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) membeberkan kejadian paling fatal terjadi di Kabupaten Gianyar dengan satu korban tewas akibat longsor.
Selain itu, senderan parit di perumahan Gang Wahyu, Jalan Ahmad Yani Utara Denpasar jebol dan berdampak pada belasan warga akibat curah hujan yang cukup lebat mengguyur Denpasar.
Insiden ini mengakibatkan akses menuju dua rumah warga terputus dan berdampak langsung pada 14 orang penghuninya.
Longsor di Kabupaten Gianyar terjadi di proyek bangunan milik DMA yang berlokasi di Jalan Air Terjun, Banjar Tegenungan, Desa Kamenuh, Kecamatan Sukawati. Longsoran material menimbun tiga orang pekerja.
Berdasarkan laporan terkini yang diterima Tribun Bali, satu korban atas nama NS dinyatakan meninggal dunia dan telah dievakuasi ke RS Ari Canti.
Satu korban lainnya mengalami luka berat dan satu orang mengalami luka ringan. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan.
Baca juga: IBU Hamil 7 Bulan & 2 Keluarga Terjebak Longsor, Akses Gang Putus di Denpasar, Begini Kondisinya!
Baca juga: TERIAKAN Ibu Didengar Sridana, Rumah Lansia Terbakar, Sukrini Alami Luka Bakar di Tangan dan Kaki
Baca juga: JAMBRET Lagi di Bali, Tas Lansia Ditarik Pria Bermotor di Karangasem, Aparat Telusuri CCTV
BPBD Gianyar mendapatkan laporan darurat dari kawasan Banjar Tegenungan kemarin siang. Sebanyak tiga buruh proyek tertimbun material longsor.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta mengatakan, pasca mendapatkan laporan orang tertimbun material, ia bersama anggota langsung terjun ke lokasi kejadian.
Saat tiba di sana, terdapat tiga orang yang tertimbun. Dua orang bisa keluar dengan cepat, dan satu orang sempat terjebak dalam material selama kurang lebih 30 menit.
“Dua orang bisa keluar dengan cepat, dan satu orang terjebak hampir 30 menit. Kita bisa keluarkan, dan dievakuasi ke RSU Ari Santi Ubud, kondisinya lemas,” ujar Dibya.
Dijelaskan para pekerja yang berasal dari Kecamatan Blahbatuh itu, awalnya mengerjakan proyek bangunan yang di pinggirnya terdapat senderan roboh sejak beberapa hari lalu. Saat itu, para pekerja akn membersihkan material longsor tersebut, namun justru hal yang tak diinginkan terjadi.
“Di TKP (Tempat Kejadian Perkara) memang ada yang senderannya sudah jebol. Rencana pekerja ini membersihkan material itu, tapi kembali jebol dan menimpa mereka,” ujarnya.
Sementara itu, senderan parit di perumahan Gang Wahyu, Jalan Ahmad Yani Utara Denpasar jebol dan berdampak pada belasan warga. Kejadian ini terjadi pada Kamis (12/2) sore akibat curah hujan yang cukup lebat mengguyur Denpasar.
Insiden ini mengakibatkan akses menuju dua rumah terputus sehingga berdampak pada 14 orang penghuninya.
Kepala BPBD Kota Denpasar, Ida Bagus Joni Arimbawa, menjelaskan kejadian bermula dari dinding parit yang ambrol. Runtuhnya senderan tersebut turut menarik pondasi rumah yang berada tepat di sebelahnya hingga ikut longsor.
“Material longsor ini menutup akses jalan menuju kos-kosan yang berada di belakang pondasi yang jebol tersebut,” ujar Joni.
Selain menutup akses, rumah yang pondasinya ikut tergerus kini dalam kondisi rawan. Pemilik rumah tidak berani menempati bangunan tersebut karena risiko roboh yang tinggi, sehingga mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Total ada 4 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak di lokasi ini. Rinciannya, 3 KK merupakan warga penyewa kos dengan jumlah sekitar 10 orang, dan 1 KK adalah pemilik rumah yang terdiri dari 4 anggota keluarga,” paparnya merinci jumlah warga terdampak.
Kejadian berlangsung sekitar pukul 15.10 WITA ini sempat memicu kepanikan warga sekitar. Pasalnya, salah satu penghuni yang terjebak adalah seorang perempuan berusia 18 tahun, Intan Nuraeni, yang mengandung tujuh bulan. Kondisi TKP terlihat mengkhawatirkan.
Selain bangunan kos yang roboh, pondasi bangunan rumah tampak menggantung setelah tanah di bawahnya amblas sedalam beberapa meter.
Material longsor berupa bongkahan batu, tanah merah, dan puing-puing bangunan menutupi gang sempit yang menjadi akses utama warga.
Tim gabungan dari TRC BPBD Kota Denpasar, Damkar, hingga kepolisian melakukan evakuasi. Petugas terlihat dengan hati-hati membantu warga menyelamatkan perlengkapan dan barang-barang dari bangunan.
Joni memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka dalam musibah ini. Namun, dampak kerusakan infrastruktur membuat lokasi tersebut tidak lagi aman untuk ditempati sementara waktu.
Joni menambahkan total ada tiga keluarga yang berhasil dievakuasi dari rumah kos tersebut yakni keluarga Ni Made Anggreni asal Karangasem bersama suami dan 2 anaknya.
Lalu, keluarga Wayan Sudiartini asal Negara bersama suami dan 2 anaknya serta keluarga Intan Nuraeni ibu hamil 7 bulan bersama suaminya, Komang Supratna.
“Yang tinggal di kos-kosan ada 3 KK, mereka sempat terjebak longsor dan sudah dievakuasi di rumah warga setempat, tidak bisa keluar dari tempat kos karena gangnya ambrol, tidak ada yang cedera,” kata Joni.
“Untuk korban jiwa nihil,” imbuhnya.
Selain menutup akses kos-kosan, longsor juga merusak satu pelinggih milik warga. Satu keluarga lain yang tinggal di area terdampak, yakni keluarga Putu Agus Eka (45) bersama istri dan anak memilih untuk mengungsi ke rumah mertua demi keamanan.
Joni mengakui proses penanganan di lapangan menghadapi tantangan yang cukup sulit dan berisiko. Penggunaan alat berat dinilai bukan opsi yang aman saat ini. “Jika dipaksakan menggunakan alat berat dari PU (Dinas Pekerjaan Umum), kami khawatir getaran mesin justru akan memicu keruntuhan total pada bangunan rumah yang sudah labil,” jelasnya.
Opsi penanganan darurat lainnya, seperti pemasangan penyangga bambu secara manual untuk menahan bangunan, juga dinilai memiliki risiko tinggi bagi keselamatan pekerja. Sebagai langkah awal, pihak BPBD akan melibatkan partisipasi warga sekitar.
“Kami akan meminta bantuan warga serta pemilik rumah untuk melakukan pembersihan parit secara manual dan gotong royong. Fokus utamanya adalah memperlancar aliran air terlebih,” katanya. (sar/weg/sup/ian)
Cuaca di Bali Bervariasi
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menyampaikan secara umum kondisi cuaca di Bali bervariasi.
Wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Klungkung terpantau cerah, Kabupaten Tabanan dan Buleleng cerah berawan. Sedangkan Kabupaten Badung, Karangasem, serta Jembrana berawan, sementara hujan terjadi di Bangli.
Selain longsor di Kabupaten Gianyar dan Denpasar, bencana juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Tabanan. Dalam laporan tersebut terjadi dua pohon tumbang.
Peristiwa pertama terjadi di Pasar Tuak Ilang, Desa Den Bantas, Kecamatan Tabanan. Pohon tumbang juga dilaporkan menutup saluran irigasi Subak Yeh Nu di Desa Gubug, Kecamatan Tabanan. Kedua kejadian tersebut telah ditangani dan tidak menimbulkan korban jiwa.
BPBD Bali juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan dini cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tertanggal 12 Februari 2026.
Status waspada diberlakukan untuk wilayah Denpasar, Bangli, dan Klungkung. Sedangkan status siaga ditetapkan untuk Badung, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, dan Tabanan.
BPBD mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di daerah rawan longsor dan pohon tumbang, agar tetap berhati-hati dan segera melaporkan potensi bencana kepada aparat setempat.
Hal senada dikatakan Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta. Ia pun mengimbau pada para pekerja proyek di Kabupaten Gianyar, agar lebih waspada saat bekerja.
Sebab, cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa bulan dan masih berlangsung hingga saat ini, menyebabkan tanah menjadi labil. Jika tidak dikerjakan secara teliti dan hati-hati, ditakutkan hal serupa bisa terjadi lagi.
“Akibat guyuran hujan terus menerus, tanah menjadi labil, sehingga sangat rawan terjadi hal demikian. Karena itu kami imbau agar para pekerja bangunan lebih teliti, waspada dan tentunya melengkapi diri dengan perlengkapan keselamatan,” ujarnya. (sar/weg)
Banjir Hambat Lalin Amlapura-Denpasar
Hujan dengan intensitas tinggi memicu terjadinya banjir debris di ruas Jalan Nasional Amlapura–Denpasar, tepatnya di kawasan Sanghyang Ambu, Dusun Samuh, Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem, Kamis (12/2) sekitar pukul 13.50 Wita. Peristiwa tersebut sempat mengganggu kelancaran arus lalu lintas (lalin) di jalur tersebut.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa menjelaskan, aliran air datang dari wilayah utara yang membawa material kerikil, tanah, dan batu hingga menumpuk di badan jalan.
“Curah hujan yang cukup tinggi mengakibatkan aliran air membawa material batu, tanah, dan kerikil ke badan jalan sehingga menghambat arus lalu lintas,” ujarnya.
Informasi kejadian tersebut pertama kali dilaporkan anggota Polres Karangasem sekitar pukul 14.15 Wita. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Karangasem langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan.
Penanganan dilakukan bersama petugas Balai Jalan Nasional, anggota Polres Karangasem, serta personel Polsek Kota. Proses pembersihan material dimulai pukul 15.10 Wita dengan cara manual menggunakan sekop dan cangkul.
“Selain membersihkan material, petugas juga membantu pengendara, khususnya sepeda motor, agar dapat melintas dengan aman di lokasi kejadian yang sempat tergenang aliran air cukup deras,” ungkapnya.
Arimbawa menyebutkan, proses penanganan berhasil diselesaikan sekitar pukul 15.40 Wita dan arus lalu lintas kembali normal. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap berhati-hati saat melintas di jalur tersebut, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi karena berpotensi memicu kejadian serupa. (mit)
| Longsor Tutup Jalur Tegallalang–Cebok, Tebing Setinggi 7 Meter Ambrol |
|
|---|
| Jalan Penghubung Desa Peken Belayu-Desa Kukuh Kembali Longsor, Tebing Tergerus |
|
|---|
| 27 KK di Buleleng Terisolasi Pasca Longsor di Gitgit, Siswa Tidak Bisa Sekolah |
|
|---|
| Longsor Saat Hujan Deras di Nusa Penida, Tembok Penahan Pekarangan Rumah Warga Roboh |
|
|---|
| Korban Tanah Longsor di Kintamani Ditemukan Meninggal, Tertimbun Material 100 Meter |
|
|---|