Longsor di Bali
27 KK di Buleleng Terisolasi Pasca Longsor di Gitgit, Siswa Tidak Bisa Sekolah
Peristiwa longsor melanda Banjar Dinas Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Peristiwa longsor melanda Banjar Dinas Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali.
Satu tempekan yang dihuni 27 kepala keluarga (KK) dilaporkan terisolasi akibat peristiwa ini.
Perbekel Gitgit, I Putu Arcana, membenarkan adanya peristiwa tersebut.
Longsor terjadi pada Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 16.00 Wita. Di mana pada saat itu sedang terjadi hujan deras di lokasi sekitar.
Baca juga: KRONOLOGI LENGKAP Kakek dan Cucu Meninggal Bersama di Tukad Aya Bontihing Buleleng
"Titik longsor berlokasi di kebun milik warga bernama Nyoman Kayun (63). Memang kebun di sekitar sini kemiringannya rata-rata 45 derajat," sebutnya, Kamis (9/4/2026).
Total panjang longsor mencapai 70 meter, menutup jalan setapak warga. Akibatnya satu tempekan, yakni tempekan Yeh Muncrat yang dihuni 27 KK terisolir.
"Masyarakat tidak bisa keluar karena akses jalan tertutup. Begitupun anak-anak SD dan SMP tidak bisa sekolah," imbuhnya.
Baca juga: Polisi Buka Peluang Korban Baru di Kasus Kekerasan LKSA ‘GS’ Buleleng, Ada yang Belum Melapor
Pascaperistiwa longsor, masyarakat sekitar segera melakukan gotong-royong evakuasi material.
Namun proses evakuasi dihentikan pada pukul 18.00 Wita, dengan pertimbangan kondisi cuaca buruk. Dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
Evakuasi material longsor kemudian dilanjutkan keesokan harinya. Evakuasi melibatkan staf kecamatan, relawan desa, TNI, Polri, BPBD dan masyarakat sekitar.
Baca juga: Polisi Buka Peluang Korban Baru di Kasus Kekerasan LKSA ‘GS’ Buleleng, Ada yang Belum Melapor
Hingga pukul 14.00 Wita, progres evakuasi hampir mencapai 60 persen. Tim gabungan terkendala material pohon besar yang ikut terseret longsor.
Terlebih proses evakuasi hanya bisa dilakukan dengan cara manual. Alat berat tidak bisa masuk ke lokasi longsor, karena merupakan jalan setapak.
"Untuk menuju 100 persen itu sisanya berat, karena banyaknya pohon yang longsor. Seperti pohon aren (jaka), terus pohon cempaka ada di sana. Itu yang berat. Kalau bisa menggunakan alat berat, mungkin hanya butuh waktu dua jam saja," ucapnya.
Walau demikian upaya membuka kembali akses jalan masih terus berlangsung hingga pukul 18.00 Wita.
Estimasi Kerugian Rp100 Juta
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Tim-gabungan-saat-melakukan-evakuasi-material-longsor-di-tempekan-Yeh-Muncrat.jpg)