Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Kemacetan Kronis Bali, Transportasi Berbasis Desa Adat via Teknologi 'Rust' Digodok Bareng Pemprov

Proyek strategis ini tidak hanya sekadar layanan transportasi, melainkan sebuah ekosistem digital yang menyelaraskan teknologi modern

Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Istimewa
AUDENSI - Gubernur Bali, Wayan Koster saat audiensi bersama PT Sentrik Persada Nusantara membahas transportasi lokal terintegrasi berbasis desa adat. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -  Terobosan besar dalam dunia transportasi digital resmi diperkenalkan melalui program TRIHITA (Transportasi Hijau Terintegrasi Berbasis Desa Adat) sejalan visi "Nangun Sat Kerthi Loka Bali".


Proyek strategis ini tidak hanya sekadar layanan transportasi, melainkan sebuah ekosistem digital yang menyelaraskan teknologi modern dengan filosofi luhur kearifan lokal Bali.


Ketua Dewan Pembina Yayasan Tri Hita Bali Dwipa sekaligus Founder PT Sentrik Persada Nusantara I Made Sudiana, S.H., M.Si., menegaskan bahwa TRIHITA lahir untuk menjawab tantangan kemacetan kronis dan dominasi usaha asing yang mengancam pelaku usaha lokal di Bali.

Baca juga: Wali Kota Tetapkan Sanur Bali Sebagai Kawasan Rendah Emisi, Wujudkan Transportasi Ramah Lingkungan

Dalam audiensi terbaru di Kantor Dinas Perhubungan Bali, Sudiana menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menyukseskan program ini.


"Pergub yang kita rancang untuk TRIHITA harus mampu membangun kerja sama yang men-support pemberdayaan ekonomi desa secara umum," tegas tokoh masyarakat asal Canggu tersebut kepada Tribun Bali, pada Minggu 22 Februari 2026.


"Kelemahan daripada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) selama ini adalah ego sektoral. Mereka jalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi terintegrasi," imbuhnya. 


Sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali per Januari 2026, seluruh aplikasi transportasi lokal kini diwajibkan mengadopsi filosofi Tri Hita Karana. 


Langkah ini diperkuat oleh arahan Gubernur Bali Wayan Koster yang memposisikan Desa Adat sebagai mitra strategis dan pengawas wilayah.


Ia menjelaskan, TRIHITA dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman berperforma tinggi "Rust" teknologi yang sama digunakan oleh platform global seperti Grab aplikasi ini dirancang untuk stabilitas dan kecepatan tinggi. 

Baca juga: Polemik Transportasi di Bali, Larangan Penjemputan Tidak Tepat, Wisatawan Jadi Korban

Bekerja sama dengan tim developer Lyxa Dev termasuk pelaku usaha transportasi lokal, Agustinus Winjaya, TRIHITA ditargetkan berkembang menjadi sebuah Superapp regional dan nasional. Direktur Lyxa Dev menyatakan optimisme luar biasa terhadap masa depan aplikasi ini.


"Walaupun TRIHITA ini aplikasi baru, dengan pemetaan persaingan yang detail dan cita-cita mulia untuk krama desa, saya percaya 1000 persen aplikasi ini akan menjadi semangat baru. Sudah tiba waktunya Bali bangkit dalam modernisasi yang selaras dengan budaya," bebernya


Proyek TRIHITA mengintegrasikan tiga model utama, yakni TRIHITA Desa, menempatkan Desa Adat melalui BUPDA sebagai subjek utama pengelolaan.


TRIHITA Pura melalui kerja sama dengan Bandara Ngurah Rai dan TRIHITA Bahari terntegrasi dengan PT Pelindo untuk kawasan pelabuhan dan pesisir.


Sistem ini didukung oleh ekosistem pembiayaan lokal yang kuat, melibatkan Bank BPD Bali, LPD, dan PT Bali Kerthi Development Fund Ventura (BDF) untuk memastikan keberlanjutan bagi mitra pengemudi dan koperasi lokal.

Baca juga: 5 LONTAR Kondisinya Patah hingga Hancur, Penyuluh Bahasa Bali Konservasi 16 Cakep di Sanur Kaja


Dengan fitur lengkap mulai dari E-wallet (Trihita Pay), pemesanan makanan, hingga reservasi hotel dan tiket wisata, TRIHITA siap menjadi pilar utama pembangunan Bali Era Baru yang harmonis dan berkeadilan. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved