Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Menepis Stigma Dengan Jarum, Cara Amanda Nirbita Rayakan Hari Kartini Dengan Seni di Atas Kulit

Menepis Stigma Dengan Jarum, Cara Amanda Nirbita Rayakan Hari Kartini Dengan Seni di Atas Kulit

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Seniman Tato Bali, Amanda Nirbita Catelya. Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Di balik balutan kebaya merah dan selendang emas yang anggun, Amanda Nirbita Catelya berdiri di antara deretan papan seluncur di pesisir Pantai Kuta, Badung, Bali. 

Namun, bukan canting atau kuas yang ia pegang untuk merayakan Hari Kartini kali ini, melainkan mesin rajah tubuh. 

Seniman tato Bali dari studio Omtatu ini hadir untuk memberikan sentuhan seni permanen bagi para perempuan sebagai bentuk apresiasi terhadap kemerdekaan berekspresi.

Baca juga: Pemkab Bangli Gelar Bhakti Penganyar di Pura Besakih Bali, Wujud Bakti Dalam Rangka Karya IBTK

Keikutsertaan Amanda dalam peringatan Hari Kartini tahun ini merupakan pengalaman pertamanya. 

Ia mengaku sangat antusias bisa terlibat langsung dalam acara yang mengumpulkan banyak sosok perempuan tangguh. 

"Excited, senang banget pokoknya ketemu Kartini-Kartini yang hebat di sini," ungkap Amanda dijumpai Tribun Bali, pada Selasa 21 April 2026.

Baca juga: Rekomendasi LKPJ Bupati 2025, Dewan Soroti Silpa Karangasem Bali Tembus Di Atas 8 Persen

Perjalanan Amanda di dunia seni rupa sebenarnya bermula dari kanvas konvensional. Sebelum memutuskan menjadi tattoo artist profesional pada tahun 2017, ia adalah seorang pelukis. 


Ketertarikannya pada dunia rajah muncul karena ia mencari tantangan baru dalam medium berkarya. 


Baginya, kulit manusia menawarkan tingkat kesulitan dan kepuasan yang berbeda dibandingkan kain kanvas.


"Awal mulanya itu ya aku dari pelukis dulu. Melukis, gambar, terus kenapa enggak aku coba media lain yang mungkin lebih menantang seperti kulit manusia? Akhirnya sampai sekarang aku konsisten dengan dunia pertatoan," tuturnya.


Bagi Amanda, tato bukan sekadar gambar yang menempel di badan, melainkan cerminan identitas. 


Itulah sebabnya ia memiliki prinsip kuat dalam melayani klien. Amanda sangat tidak menyarankan orang mengambil desain mentah dari internet atau Google. 


Ia bahkan kerap menolak calon klien yang ingin menato untuk pertama kalinya jika dirasa belum siap secara mental maupun pilihan desain.


"Tato itu selamanya, enggak bisa dihapus. Jadi aku benar-benar tanya umurnya, ada izin orang tua tidak? Kalau baru pertama kali dan ragu, I say no. Aku selalu menyarankan pilih desain yang benar-benar mencerminkan diri dan memiliki makna mendalam bagi pemakainya," tegas Amanda.


Ia juga menyadari bahwa stigma negatif terhadap perempuan bertato masih kerap ditemui di tengah masyarakat. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved