Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sampah di Bali

Temui Mahasiswa dan BEM Unud, Koster Jabarkan Update Penanganan Sampah di Bali 

Gubernur Bali, Wayan Koster temui Mahasiswa dan BEM Universitas Udayana (Unud) pada seruan aksi dan tuntutan dialog terbuka

Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
TEMUI - Gubernur Bali, Wayan Koster temui Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana (Unud) pada seruan aksi dan tuntutan dialog terbuka Bali Darurat Sampah pada Rabu 22 April 2026 di Wantilan DPRD Provinsi Bali. 

Bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup Koster mengatakan sudah mengambil kebijakan paling lambat 31 Maret 2026 sudah berakhir sampah organik dibawa ke TPA Suwung. Mulai 1 April 2026 hanya boleh sampah residu sampai 31 Juli 2026. Mulai 1 Agustus direncanakan TPA Suwung tidak lagi bisa menampung sampah organik maupun juga non-organik dan residu. Jadi TPA Suwung artinya akan ditutup dan memang waktunya sudah ditutup karena overcapacity dan menimbulkan dampak yang tidak bagus, merusak citra pariwisata Bali, selain juga soal kesehatan, 

"Adik-adik menuntut supaya ini cepat selesai. Sama. Saya juga ingin cepat selesai. Tidak ada yang mau membiarkan situasi ini. Jadi karena itu saya mengambil posisi ini harus diselesaikan. Maka saya dengan Wali Kota Denpasar dan Bupati Badung," bebernya. 

Yang berikut, yang sekarang tengah didorong adalah di sumber atau tingkat rumah tangga, warga, Wali Kota dan Bupati Badung itu mempercepat pengadaan dekomposter.

Kemudian pengadaan teba modern karena tidak diizinkan lagi sampah organik dibawa masuk TPA Suwung, maka sekarang pemilahan sampah di Kabupaten Badung dan di Kota Denpasar sekarang berlangsung dengan sangat baik.

Dari semula hanya posisinya 30 persen, sekarang sudah mencapai 70 persen warga memilah sampah. Dengan adanya pemilahan ini, maka pengolahan sampah itu lebih mudah. Tapi di Denpasar ini, 1033 ton per hari, 60 persen nya adalah organik. Berarti sekitar 600 ton per hari organik yang harus diolah. 

Sementara di hulu untuk pengadaan dekomposter, Wali Kota sudah menyiapkan alokasi anggaran untuk 170 ribu lebih dekomposter. Tapi penyediaannya hanya mampu menyiapkan sampai sekarang 40 ribu. Karena keterbatasan penyediaannya. Semua link sudah dihubungi, namun belum tersedia. Sekiranya ini bisa, terus sampai selesai 176 ribu maka pengelolaan sampah. Di sumber, di warga, itu akan berlangsung dengan lebih cepat dan volume lebih besar. 

Yang kedua adalah membangun teba modern dipercepat, tapi untuk Denpasar tidak semua bisa. Karena halamannya tidak ada, halamannya terbatas. Namun Badung dapat mengatasi hal tersebut, Maka sekarang di Badung itu pengelolaan sampahnya relative sudah bisa berjalan dengan baik. Meskipun masih ada sisa masalah karena waktunya memang sangat mepet. 

"Yang harus kita fokus adalah di Denpasar karena ini merupakan permukiman perkotaan yang sangat padat dan volume sampahnya besar. Ini yang perlu dengan skenario yang lebih cepat dan lebih terarah. Karena itulah sekarang diperbanyak pembangunan TPS 3R. Kalau di hulu itu adalah di warga dengan dekomposter dan teba modern, di tengah adalah dengan pembangunan TPS 3R. Dan TPST," ungkapnya. 

Di Denpasar terdapat 23 TPS3R, tapi belum semua berfungsi secara optimal. Sekarang mulai didorong oleh Wali Kota bersama Kepala Desa, Lurah, dan Bendesa Adat agar berfungsi secara optimal. Plus akan dibangun lagi TPS 3R dengan sokongan dana dari Provinsi maupun juga dari Kota Denpasar, dan Kabupaten Badung. Kemudian dioperasionalkan 4 TPST di Kota, Denpasar, yaitu 1 TPST di Kertalangu, 2 TPST di Tahura, dan 1 TPST di Padang Sambian. Ini sedang dilengkapi dengan peralatan pengolah sampah. Tapi alat ini beli, perlu menyiapkan anggaran, perlu tender, dan perlu pesan. Tidak bisa sekarang beli, sekarang datang barangnya. Perlu waktu sekian bulan.

Setelah barangnya ada, lalu dirakit. Sekarang sudah datang, alat sedang dirakit di Kertalangu 1 unit. Kemudian akan datang lagi bulan Juni di Tahura, di Tahura 1 dan Tahura 2 unit. Jadi dengan fasilitas ini nanti di Kertalangu akan mengolah sampah 200 ton per hari. Kemudian di Tahura 1 alat 250 ton per hari dan di Tahura 2 alat 100 ton per hari. Kemudian akan dibangun TPS3R, di Sanur 50 ton per hari dan di Sidakarya juga 50 ton per hari. 

"Ini semua adik-adik, mohon maaf, ini perlu waktu. Karena tidak semua bisa dijalankan sekarang mau, sekarang jalan karena perlu pemesanan barang. Datang dia, di-setting alatnya. Perlu waktu. Yang bulan Juni alatnya datang. Itu perlu waktu untuk settingnya 1 bulan," tandasnya. 

Setelah dipasang penuh, satu bulan selesai. satu bulan kira-kira bulan Juli. Akhir Juli selesai, awal Agustus baru bisa beroperasi. Beroperasinya pun tidak bisa sekaligus 200 ton per hari, itu dia perlu waktu. Dicicil, sekian ton dulu, sekian ton dulu, sampai alat dapat berfungsinya optimal lantas akan dapat mengolah sampah dan mencapai 200 ton per hari. "Itulah sebabnya target untuk penutupan TPA Suwung itu di awal Agustus 2026," tutupnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Sampah di Bali

 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved