Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Buleleng

Pemkab Buleleng Putar Otak Tindaklanjuti Kenaikan Harga Aspal

Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) turut mendongkrak kenaikan harga material, salah satunya aspal.

Tayang:
Tidak Ada/istimewa
Jalan rusak - Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna saat melakukan peninjauan jalan rusak di Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng. Pemkab Buleleng kini masih putar otak menindaklanjuti harga aspal yang kian mahal dampak kenaikan BBM. Istimewa 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) turut mendongkrak kenaikan harga material, salah satunya aspal. Pemkab Buleleng kini berupaya mencari solusi. Sebab kenaikan aspal tentu berpengaruh terhadap perbaikan infrastruktur jalan

Hal tersebut diungkapkan Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, disela peninjauan jalan rusak yang berlokasi di wilayah Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Jumat (22/5/2026). Dikatakan jika Pemkab Buleleng saat ini sedang dihadapkan dengan kenaikan harga aspal, dampak dari naiknya harga BBM.

Baca juga: Ekspansi Strategis Bawa Keseruan, Deretan Mesin Permainan Eksklusif dan Konsep Hiburan Modern

"Kenaikan aspal saat ini sudah lebih dari 50 persen. Pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kita pasang harga aspal Rp12 ribu per kilo. Sekarang harganya sudah Rp20 ribu per kilo. Ini yang menyebabkan proses perbaikan jalan tahun ini terkesan agak terlambat," ungkapnya. 

Menurut Supriatna, apabila proyek tetap dipaksakan menggunakan standar harga lama yang tercantum dalam DPA, dikhawatirkan tidak ada kontraktor yang bersedia mengambil pekerjaan tersebut karena dinilai berisiko merugi.

Baca juga: Tekanan Pariwisata Meningkat, UHA Jaga Mental dan Kesehatan Pekerja Hotel Lewat Turnamen Futsal

Saat ini pemerintah masih menyusun ulang perencanaan proyek dan berkonsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait langkah yang dapat diambil. Sejumlah opsi pun tengah dipertimbangkan, mulai dari pengurangan panjang ruas jalan hingga penyesuaian spesifikasi pekerjaan.


Misalnya, ruas jalan yang semula direncanakan sepanjang satu kilometer kemungkinan dikurangi menjadi sekitar 700 meter. Selain itu, ketebalan lapisan aspal hotmix juga berpotensi disesuaikan dari rencana awal.


"Misalnya yang semula tebal aspal hotmix-nya 12 sentimeter, bisa jadi 10 sentimeter," imbuhnya. 


Untuk diketahui, Buleleng memiliki ruas jalan paling panjang di wilayah Bali. Dari jumlah seluruhnya, tercatat 300 kilometer mengalami kerusakan. Baik rusak berat, sedang maupun ringan. 


Pemkab Buleleng mengaku masih mempertimbangkan langkah terbaik di tengah kondisi kenaikan harga aspal yang belum stabil. Di sisi lain, penundaan proyek juga dikhawatirkan memicu keluhan masyarakat terhadap lambatnya perbaikan infrastruktur jalan yang sebelumnya telah diprogramkan.


"Takutnya kan enggak turun-turun (harga aspal), sehingga masyarakat akan lebih banyak yang komplain terhadap lambatnya pekerjaan atau yang sudah diprogramkan sebenarnya ini," ujarnya. 


Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Perkim Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menjelaskan sesuai rencana awal pihaknya akan mengerjakan 30 kilometer penanganan jalan hotmix, di sepanjang tahun 2026 ini.


Meski terjadi lonjakan harga aspal, pemerintah mengaku masih berupaya mempertahankan target panjang penanganan jalan yang telah direncanakan. Penyesuaian kemungkinan akan dilakukan pada spesifikasi teknis pekerjaan.


"Kita pertahankan untuk panjang dulu. Kita masih pertahankan panjangnya, kita masih coba hitung speknya. Mudah-mudahan bisa turun sedikit," katanya. (mer)

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved