Berita Buleleng
Padi Sudaji Terancam Punah, DPKPP Buleleng Mulai Konservasi Benih
Salah satu varietas beras lokal khas Buleleng yakni Padi Sudaji terancam punah. Minimnya petani yang masih menanam padi
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Salah satu varietas beras lokal khas Buleleng yakni Padi Sudaji terancam punah. Minimnya petani yang masih menanam padi tersebut membuat keberadaan benihnya semakin langka.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Buleleng, Gede Melandrat mengatakan saat ini Padi Sudaji hampir tidak lagi dibudidayakan oleh petani. Ini karena masa tanam yang terlalu panjang dibandingkan varietas modern.
Sebenarnya dari segi rasa, kualitas beras, maupun kandungan gizi, Padi Sudaji tidak kalah dibandingkan varietas lain.
Termasuk harga jual yang dinilai lebih unggul.
Baca juga: Pertanian Di Gianyar Bali Tak Bisa Lepas Dari Padi, LTT Jagung Hanya 13,5 Hektare
"Beras Bali lebih mahal, dua kali lipat mahalnya. Kalahnya hanya di waktu. Karena dari mulai tanam sampai panen itu butuh waktu enam bulan. Tentunya biaya operasional juga semakin meningkat," jelasnya, Minggu (24/5/2026).
Melandrat menjelaskan, Padi Sudaji merupakan varietas lokal yang memiliki keterikatan geografis dengan wilayah Sudaji.
Dahulu, hampir seluruh wilayah Sudaji dikenal sebagai sentra penanaman padi tersebut.
Namun kini, luas tanamnya terus menyusut karena banyak petani beralih ke varietas unggul baru, yang dapat dipanen dalam waktu sekitar tiga bulan dan dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.
Baca juga: TANTANGAN dan Ancaman Kebebasan Pers dan Berekspresi di Bali Jadi Diskusi AJI Bersama Insan Media!
Apalagi pemerintah mendorong indeks pertanaman hingga tiga kali tanam dalam setahun.
Melandrat menyebut keberadaan Padi Sudaji kini semakin mengkhawatirkan karena benihnya mulai sulit ditemukan.
Oleh sebab itu, DPKPP Buleleng mulai melakukan langkah konservasi benih.
"Saat ini benihnya sudah semakin sedikit, malah sudah hampir habis. Karena padi ini tidak hibrid, jadi proses tanamannya pakai benih lagi. Kalau sudah tidak menanam lebih dari enam bulan, maka habislah riwayat benih itu," jelasnya.
Konservasi benih padi Sudaji dilakukan pada lahan seluas 12 are, bertempat di Hutan Kota Singaraja. Selain upaya konservasi, pihak dinas juga melakukan edukasi khususnya pada pemilik lahan, agar tetap menanam varietas lokal tersebut.
"Kalau enggak pemerintah hadir, itu hilang nanti, musnah," tegasnya.
Sementara itu, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra mengatakan pemerintah daerah mulai melakukan upaya pelestarian varietas lokal melalui pembuatan demplot atau lahan percontohan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Bupati-Buleleng-I-Nyoman-Sutjidra-bersama-kepala-OPD.jpg)