Berita Denpasar
Kembangkan Kampung Kuliner Serangan Bali, Dispar Denpasar Tengah Jajaki CSR
pihaknya sudah berkoordinasi dengan Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma (PDAM) Kota Denpasar untuk penyambungan layanan ke lokasi.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sampai saat ini, Kampung Kuliner di Kelurahan Serangan Denpasar belum beroperasi.
Terkait hal itu, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Denpasar tengah menjajaki dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pengembangan Kampung Kuliner tersebut.
Bangunan untuk Kampung Kuliner telah rampung dibangun akhir 2024 dan diserahkan kepada Desa Adat pada Maret 2025.
Kepala Disparda Denpasar, Ni Luh Putu Riyastiti mengungkapkan, kendala teknis masih menghambat aktivitas pedagang di kawasan itu.
Baca juga: Hasil Panen Rumput Laut di Serangan Tak Menentu, Nyoman Puja Bersyukur Masih Didukung Banyak Pihak
Beberapa di antaranya yakni air sumur bor yang asin, minimnya atap yang membuat pengunjung kepanasan, saluran pembuangan limbah yang belum memadai, serta ketiadaan gudang penyimpanan barang.
“Keluhan tersebut sudah kami terima, bahkan kami sudah minta proposal pengajuan hibah atau CSR untuk perbaikan. Namun hingga sekarang belum ada proposal masuk, sehingga perbaikan belum bisa direalisasikan,” ujar Riyastiti.
Disparda, telah menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk PT Bali Turtle Island Development (BTID) yang menyatakan siap mendukung pengembangan kawasan kuliner tersebut.
“Selain BTID, ada juga beberapa CSR lain yang ingin membantu. Tapi kendalanya kami belum menerima proposal resmi dari desa adat, termasuk daftar pedagang yang akan berjualan,” jelasnya.
Terkait masalah air, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma (PDAM) Kota Denpasar untuk penyambungan layanan ke lokasi.
“PDAM sudah siap melakukan pergantian sumber air agar bisa dipakai pedagang,” tambah Riyastiti.
Sementara itu, Bendesa Adat Serangan, I Nyoman Gede Pariatha, membenarkan pihaknya telah menyampaikan berbagai kendala yang ada.
Ia berharap Disparda tidak lepas tangan meski kawasan tersebut sudah diserahkan ke Desa Adat.
Pariatha menambahkan, pihaknya sudah mencoba menempatkan satu pedagang sebagai pemancing sejak sebulan lalu.
Meski bukan dari daftar resmi, pedagang tersebut tetap bertahan karena mendapat respons cukup baik dari pengunjung.
“Hanya saja pedagang itu masih gratis, jadi listrik ditanggung desa adat. Kendalanya juga dia harus bolak-balik ambil air dan barang,” katanya.
Ia menekankan, jika program CSR benar-benar berjalan, komunikasi antara Disparda, Desa Adat, dan pihak swasta harus diperkuat agar Kampung Kuliner Serangan segera berfungsi optimal sebagai pusat kuliner dan daya tarik wisata baru di kawasan pesisir Denpasar Selatan. (*)
Kumpulan Artikel Denpasar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.