Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Opini

Konflik Israel-Palestina dan Latar Belakang Sejarahnya

Dalam beberapa dekade terakhir, konflik Israel-Palestina telah berkembang menjadi konflik yang kompleks

Tayang:
Tidak Ada/istimewa
Agus Widjajanto. 

Oleh Agus Widjajanto 

Pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsa

TRIBUN-BALI.COM - Banyak sekali saudara-saudara kita di tanah air yang salah persepsi dalam menilai soal perang Arab Israel, khususnya Palestina dengan Israel, seolah-olah merupakan konflik agama.

Bahwa Perang Arab-Israel, termasuk perang antara Palestina dan Israel, lebih banyak berlatar belakang perebutan wilayah pendudukan yang dianggap tidak adil dan bukanlah perang karena agama.

Perang Arab-Israel pada tahun 1948, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Israel, sesungguhnya merupakan konflik antara bangsa Palestina yang ingin mempertahankan wilayah mereka dan bangsa Yahudi yang ingin mendirikan negara Israel di wilayah yang sama.

Konflik ini kemudian berkembang menjadi perang antara Israel dan negara-negara Arab sekitar, seperti Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon, yang ingin membantu bangsa Palestina mempertahankan wilayah mereka.

Faktor agama memang ada, tetapi lebih banyak sebagai faktor yang memperkuat identitas dan motivasi masing-masing pihak, ketimbang sebagai penyebab utama konflik.

Dalam beberapa dekade terakhir, konflik Israel-Palestina telah berkembang menjadi konflik yang kompleks, dengan faktor-faktor seperti:

1. Perebutan wilayah: Konflik atas wilayah yang dianggap sebagai tanah air oleh kedua bangsa.
2. Hak-hak bangsa Palestina: Konflik atas hak-hak bangsa Palestina, termasuk hak untuk kembali ke rumah mereka dan memiliki negara merdeka.
3. Keamanan Israel: Konflik atas keamanan Israel dan perlindungan warga Yahudi di seluruh dunia.
4. Faktor agama: Konflik atas tempat-tempat suci dan simbol-simbol agama, seperti Masjid Al-Aqsa dan Kuil Raja Salomo.

Jadi, konflik Israel-Palestina adalah konflik yang kompleks, dengan banyak faktor yang berperan, tetapi perebutan wilayah pendudukan yang dianggap tidak adil adalah salah satu faktor utama.

Dalam wilayah Palestina dan juga Israel memiliki penduduk yang beragam dalam hal agama, termasuk Kristen dan Muslim.

Di Palestina, mayoritas penduduknya adalah Muslim (sekitar 98 persen), tetapi ada juga minoritas Kristen (sekitar 1-2 % ) dan lain-lain.

Di Israel, mayoritas penduduknya adalah Yahudi (sekitar 74 % ), tetapi ada juga minoritas Muslim (sekitar 18 % ), Kristen (sekitar 2 % ), dan lain-lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan jumlah penduduk Kristen di Palestina dan Israel, terutama karena migrasi dari negara-negara lain.

Namun, perlu ditegaskan sekali lagi bahwa konflik Israel-Palestina bukanlah konflik agama, melainkan konflik politik dan teritorial yang kompleks.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved