Hantavirus
Hantavirus Jadi Sorotan, Berasal dari Hewan Pengerat, Ahli Minta Waspada Tanpa Panik
WHO menekankan pentingnya deteksi dini, pelaporan cepat, serta penguatan surveilans dan koordinasi antar sektor.
Di Amerika, infeksi diketahui menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), suatu kondisi yang berkembang pesat dan memengaruhi paru-paru dan jantung.
Sedangkan di Eropa dan Asia hantavirus diketahui menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), yang terutama memengaruhi ginjal dan pembuluh darah.
Meskipun tidak ada pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan penyakit Hantavirus, perawatan medis suportif sejak dini sangat penting untuk meningkatkan angka harapan hidup dan berfokus pada pemantauan klinis yang ketat serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal.
Pencegahan sebagian besar bergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat yang terinfeksi.
Bukan Penyakit Baru
Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sekaligus Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof DR Dr Dominicus Husada DTM&H MCTM(TP), virus hanta sebenarnya bukan penyakit baru.
“Virus Hantai adalah sesuatu yang kita sudah kenal cukup lama, bukan virus baru,” ujar Prof Dominicus pada media briefing virtual, Jumat 8 Mei 2026.
Ia menegaskan masyarakat memang perlu waspada, tetapi tidak perlu panik berlebihan.
“Tidak terlalu, kita tidak setakut itulah dengan Hantai ini, tapi memang jangan sampai lengah,” katanya.
Menurut Prof Dominicus, virus Hanta berasal dari kelompok virus yang dibawa hewan pengerat atau rodensia, terutama tikus.
“Biasanya dibawa oleh hewan pengerat, rodens. Yang paling sering itu tikus,” jelasnya.
Yang membuat banyak orang tidak sadar, virus ini tidak menyebar utama dari manusia ke manusia seperti Covid-19.
Penularan paling sering justru berasal dari lingkungan yang terkontaminasi kotoran tikus.
“Tertular biasanya melalui partikel virus yang ada di air kencingnya tikus. Atau kotorannya tikus, atau liurnya tikus,” ungkapnya.
Prof Dominicus menjelaskan partikel virus dapat beterbangan di udara, terutama di ruangan tertutup yang kotor dan jarang dibersihkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Dinkes-Bali-Sebut-Hantavirus-Belum-Masuk-Bali-Penularan-Berbeda-Dengan-Covid-19.jpg)